August 14, 2008

Selasa yang Menyenangkan!

Ini adalah kepingan ceritaku di hari Selasa (29/7).

Selasa itu adalah hari yang kutunggu-tunggu, hari itu aku sidang pendadaran. Tugas pamungkasku sebagai mahasiswa. Biar aku rangkai kembali ingatanku tentang bagaimana aku menjalani hari itu.

Aku memulainya pada pukul 03.30 dini hari. Tuhan membangunkanku untuk belajar, sudah memasang alarm weker pukul 01.30, namun aku tetap tertidur. Aku benar-benar bangun pada pukul 03.30. Biasanya setelah mematikan weker aku tertidur lagi hingga pagi. Tapi hari itu tidak begitu, Terima kasih Tuhan.

Setelah bangun aku menuju kamar mandi, cuci muka lalu kembali ke kamar, menyalakan komputer dan mulai belajar. Membaca terjemahan buku elektronik tentang nonwoven, memahaminya, Tak ada rasa cemas berlebihan, aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku bisa melaluinya.

Aku belajar sampai pukul 06.00 lalu aku hentikan, karena harus membersihkan kamar dan menyiapkan Pakaian yang akan aku Pakai untuk pendadaran –kerudung, kemeja putih dan rok hitam− sembari membersihkan kamar, aku mendengarkan musik lewat winamp, musik yang memberi semangat seperti lagu “move along” dari All American Reject dan “walk on” dari salah satu band favoritku U2. Selesai itu mandi, ya aku mandi sebelum pukul 07.00. padahal biasanya mandi sekitar pukul 10.00.

Sesudah mandi aku lanjutkan belajar hingga pukul 10.30. Oh iya, aku melakukan kekonyolan hingga Arif –partner TA− sekali lagi menyebutku aneh. Saat aku lihat laptop Dhika, ternyata tidak ada mouse eksternalnya, lalu aku sms Arif, “ternyata laptop temanku g ada ‘tikus’nya.” Seingatku colokan mouseku berbentuk pipih, makanya nggak jadi pinjam mouse ke Arif. Tapi setelah aku liat ke CPU ternyata colokan mouseku berbentuk bulat, jadi aku mau pinjam mouse ke Arif tapi karena smsku tidak “to the point”, jadinya dia bingung hingga penyebutku aneh. Begini pesan singkatku.
“Colokan mousemu pipih g? punyaku bulat.”
“Apa maksudmu?” balas Arif.
“Itu colokan mouse ke cpu” kuketik sms dan kukirim.
“Kalo pipih, ntar bawain aku pinjam.”
“Dasar aneh,” balasnya.

Setelah selesai ber-sms dengan Arif, aku lalu berganti Pakaian, bersiap-siap berangkat. Buku kumasukkan ke dalam tas, file presentasi sudah ku-copy di laptop Dhika. Pukul 11.05 aku sudah siap di teras, menunggu Arif, lalu lewat penjual soto, “Ah kebetulan, aku belum makan,” pikirku, lalu aku memesan semangkuk soto dan memakannya sembari menunggu Arif.

Aku meng-sms Arif, “Wis mangkat during?”
“Iki lagi nyekel motor, siap-siap lho,” balasnya.

Pukul 11.35 Arif datang, kamipun langsung berangkat ke kampus. Sedikit kesulitan sewaktu mau membonceng karena aku memakai rok.

Di perjalanan dia bilang, “Kamu beruntung dapat penguji Pak Dalyono dan Pak Suparman.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Pak Dal itu biasanya pendadaran dibuatnya bercanda, nggak serius banget. Beda waktu si Hasyim dulu, pengujinya Pak Pratikno sama Pak Suparman, sama-sama serius,” jelasnya.

Kukatakan, “Amin.”

Arif bertanya jam berapa pendadaranku, kujawab, “Jadwalnya jam 12 tapi paling jam 12.30-an soalnya sholat.” Sampai di kampus pukul 11.50 dan Arif ingin makan karena lapar, “Makan dulu, Misni,” katanya. Sebenarnya dia mau makan sebelum berangkat tapi nggak jadi karena menunggu Fai yang nggak bangun-bangun. Akhirnya aku meluluskan permintaannya untuk makan dulu. “Tapi kamu makannya rada cepat, ya,” pintaku pada Arif. Kami lalu makan di kantin basement, aku cuma minum frestea.

Saat kami di kantin, datang Hasyim dan Fai. Mereka berdua teman seangkatan dan juga teman sekontrakan Arif. Kamipun ngobrol tentang persiapanku dan sebagainya. Saat itu aku tidak cemas, grogi. Malahan aku merasa gembira.

Aku meninggalkan mereka menuju ruang pendadaran di bagian perbekalan. Sewaktu aku membuka ruangan itu ternyata di dalamnya banyak terdapat barang-barang −sepertinya untuk hadiah doorprize. “Nggak mungkin aku pendadaran di ruang ini, tapi ini ruang pendadaran bagian perbekalan,” pikirku.
Tak lama kemudian Arif datang dan bertanya, “kamu ujian dimana?”
“Harusnya sih di ruang itu” jawabku sambil menunjukkan ruang pendadaran yang berubah seperti gudang.

Kamipun celingukan, sewaktu keluar ada mas –entah siapa namanya- bilang, “Mbak ruang pendadarannya di sebelah.” Ternyata ruang pendadaran dipindah yang di bagian umum, dan saat aku masuk para dosen penguji dan pembimbing sudah menunggu.

“Ayo, ujiannya di sini,” kata Pak Asmanto –Dosen pembimbingku.
“Oh iya, Pak. Saya pikir yang di sana,” ujarku.

Akhirnya setelah tetek-bengek persiapan akhirnya dimulailah sidang pendadaranku.
“Saudari Misni, aPakah anda sehat?” tanya Pak Asmanto memulai sidang.
“Iya, saya sehat,” jawabku.
“Baiklah, kita mulai sidang pendadaran ini, silakan saudari Misni memulai presentasinya,” ujar Pak Asmanto.

Mulailah aku mempresentasikan tugas akhir pra rancangan pabrik. Bla…bla…bla. Setelah selesai aku berpresentasi, kemudian masuk sesi Tanya-jawab. Dan yang pertama mengajukan pertanyaan adalah Pak SuSuparman, dia bertanya, “berapa panjang serat polyester?”
“Bagaimana kamu membuat perencanaan produksi?”
“Ada nggak visualisasi dari kinerja tiap mesin?”
“Benar nggak satuan untuk penggunaan daya itu kW (kilo Watt)?”
“Seharusnya itu kWh,” terangnya.

Lalu giliran Pak Dalyono, “Ini, banyak salah, tapi nggak apa-apa kita benerin bareng-bareng. Kamu kurang spesifik membuat perencanaan produksi, mestinya di mesin carding kamu hitung berapa pukulan.”
“Tapi, kamu bagus sudah mau keluar dari Pakem, bicarain technical textile.”

Aku nggak tahu berapa lama aku di sana, tak sempat memerhatikan jam dinding. Arif sempat melihatku dari luar, dan bertanya apa aku sudah selesai, dengan bahasa isyarat aku bilang belum. Setelah aku menjawab pertanyaan Pak Dalyono, Pak Asmanto tanya ke Pak Suparman “Apa ada pertanyaan lain?”
“Nggak,” jawab Pak Suparman.
“Kalau begitu sudah cukup, sebelum diakhiri ada yang mau saudari Misni sampaikan?” tanya Pak Asmanto.
“Terima kasih banyak,” jawabku.
“Itu saja?” Pak Asmanto bertanya lagi.
“Ya.” jawabku mantap.
“Kalau begitu, kamu keluar dulu. Kami mau merapatkan soal kamu,” kata Pak Dalyono.

Aku lalu keluar ruangan menemui Arif dkk. Perasaanku lega. Di luar aku langsung dicecar pertanyaan bak selebriti harus memberikan konferensi pers.
“Gimana? lancar? kamu ditanya apa aja? bisa jawab nggak? lulus nggak?” Arif, Fai, Hasyim menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti wartawan infotainment.
“Tunggu, biarkan aku bernapas,” jawabku. Tentu saja aku butuh udara segar untuk mengembalikan otakku agar rileks. Dan lagi banyak sms masuk sehingga aku juga sibuk membaca dan membalas sms.
Setelah aku merasa rileks, baru kujawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Arif bilang aku lama banget di dalam, sekitar satu jam duapuluh menit. “Selama itu?” tanyaku nggak percaya.

Saat aku sedang ngobrol dengan mereka, kedua dosen pengujiku keluar ruangan. “Kamu lulus,” ujar Pak Dalyono sambil berlalu.
“Oh, terima kasih,” ucapku.

Setelah itu aku masuk ruang pendadaran lagi untuk membereskan buku dan laptop. Kata Pak Asmanto, “Cepat kamu revisi, liat buku handbook of nonwoven. Ok sudah dulu ya.”
“Iya Pak, terima kasih,” jawabku.
Ah benar-benar lega. Satu bagian dalam cerita hidupku hampir khatam. Cerita tentang aku menjadi mahasiswi.
“Arif, sudah selesai. Ayo pulang, partnerku yang aneh.”

Selesai memasukkan buku dan laptop, kamipun pulang. Sewaktu aku berjalan di tangga serasa sedang dikawal oleh laki-laki ganteng, haha…

Hasyim bercerita dia tidak sempat mengisi bensin gara-gara ingin cepat datang ke pendadaranku. Aku terharu mendengar itu, sungguh. Fai pun menimpali, “Iya, di parkiran tadi ngecek tangki bensin ternyata kosong.”

Kamipun pulang, aku bonceng Arif sedangkan Hasyim bonceng Fai. Di jalan sekitar pertigaan Candi, motor Fai sudah kehabisan bensin, jadinya Arif bantu dorong motor Fai sampai pom bensin di Jakal km 11. Setelah ke kostku, dan kami ngobrol-ngobrol. Itu pertama kalinya mereka ke kostku. Iya selama hampir dua tahun aku partner-an sama Arif, karena dari dulu aku yang selalu ke rumah Arif. Mereka di kostku sampai pukul 15.00 setelah itu mereka pulang. Kubilang pada mereka, “Terima kasih untuk semuanya.”

Hari itu Rany juga berencana menginap di kostku. Sebelum pendadaran Rany sempat sms bilang dia menunggu di himmah, nanti kalo aku sudah selesai pendadaran sms dia, baru ke kostku.
Dhika dan Ndari juga meng-smsku, aku bilang, “Makasih doanya, alhamdulillah aku lulus.” Setelah itu Rany sms aku lagi tanya apa aku akan ke bawah. “Udah ditunggu mas Yanto, Dhika , Zendhy. Bawa makanan ya Mis.” Tapi rasanya badanku lelah jadi aku balas sms rany dan bilang, “Lain kali aku ke himmah sekarang aku capek.”

Sore itu setelah Arif, Fai, Hasyim pulang aku tiduran sembari menunggu Rany, tapi mataku tidak mengantuk, hanya badan terasa lelah. Lalu aku menghidupkan laptop Dhika dan bermain games.

Pukul 16.15 Rany datang, lalu bilang, “Selamat, ya.”
“Makasih,” balasku.

Rany datang ke Jogja karena esok harinya (30/7) ada test wawancara lowongan depkeu. Sore itu kami lewatkan dengan berdiskusi, curhat. Aku juga meng-sms Ndari minta main ke kost mumpung ada Rany. Balasan Ndari, “Iya, ntar ya sama Jurek. Ini lagi nungguin motornya lagi diPake dia.”

Sehabis maghrib aku dan Rany beli penyetan di depan warnet kliknet. Lalu kami makan bareng. Sekitar jam 20.00 Ndari datang bersama Jurek, lalu kamipun ngobrol di teras kost sampai hampir pukul 23.00. Aku bilang ke Ndari, “Ndari, kamu tidur aja di sini. Mumpung ada Rany lagipula ranjangku muat kok buat kita bertiga.”

Akhirnya Ndari setuju untuk menginap di kostku. Dia lalu meng-sms baPaknya minta ijin menginap di kostku. Motornya dibawa Jurek. Itu pertama kalinya Ndari dan Rany menginap bersama-sama di kostku.

Hari itu selasa yang menyenangkan! Aku melaluinya dengan gembira, pendadaranku. Dan di penghujung hari bisa menghabiskan waktu dengan sahabat-sahabatku. Itu seperti kado untukku setelah melalui pendadaran. Terima kasih Tuhan.

No comments:

Post a Comment