June 14, 2011

Bibir Menor Untuk Menarik Perhatian Siswa



"Aku arep dadi guru sing mulang bocah kaya Atun," begitulah niat Umi Nur Faridah (32) saat ia duduk di kelas III Sekolah Dasar, ia ingin menjadi guru yang mengajar anak seperti Atun (tetangganya yang menderita tunanetra). Keinginan itu membekas hingga Ida –begitu panggilan akrabnya- mengenyam pendidikan tinggi. Pada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1997, ia menuliskan Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagai pilihan pertama dan bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua. "Orangtua ingin saya jadi guru bahasa Indonesia,"  ujarnya.

Ternyata Ida lulus UMPTN itu, jadilah ia kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. "Selama satu semester orangtua tidak tahu kalau saya kuliah di PLB, mereka tahunya saya kuliah di jurusan bahasa Indonesia," kenangnya.


June 09, 2011

Belasan Tahun Hidup Andalkan Jangkrik

SIDOAGUNG – Jangan anggap remeh jangkrik. Serangga dengan suara krik, krik, krik, monoton itu bagi sebagian orang bisa menjadi penghibur di kala malam sepi. Penyanyi keroncong Waljinah pun tentu akan setuju jika jangkrik dikatakan sebagai binatang paling berjasa untuk karier menyanyinya. Ingat lagu ‘Jangkrik Genggong’, pasti langsung ingat Waljinah.
Lain lagi bila kita minta pendapat Slamet (43), warga Perengkembang, Balecatur, Gamping, Sleman. Jangkrik, bagi bapak empat anak itu menjadi gantungan hidupnya. Selama 15 tahun ia berjualan jenis serangga itu secara berpindah-pindah menurut hari pasaran pasar tempat ia berjualan.

June 08, 2011

Si Midas Sampah

Bagai Raja Midas, yang mampu mengubah apapun menjadi emas. Sekar Gambir Kartini mengubah sampah kering menjadi barang yang bernilai jual tinggi.
Mbak GambirBerawal dari lomba Green and Clean yang diadakan pemerintah kabupaten Sleman bekerjasama dengan Unilever, dusun Klajuran meraih juara dalam kategori lingkungan sehat. Namun pihak Unilever menginginkan ada bukti nyata pengolahan limbah/sampah kering. Mbak Gambir –begitu panggilan akrab- mulai mencoba membuat tempat pensil berbahan dasar bungkus isi ulang sabun cuci piring cair. “Saya memang punya ketrampilan menjahit, dan setelah saya coba ternyata hasilnya bagus,” ujar Gambir.

Setelah itu warga dusun Klajuran mulai memilah sampah. Di setiap rumah terdapat tiga tong untuk tiga macam sampah, sampah kertas, sampah plastik, dan sampah kaca/logam. Sampah-sampah itu dikumpulkan di stasiun sampah. “Ada petugas yang mengumpulkan, lantas sampah kertas dan sampah kaca dijual ke pengepul, sampah plastik digunakan sebagai bahan dasar membuat tas, dompet,” jelasnya.
 Usaha Gambir untuk mensosialisasikan agar warga mau memilah sampah dan mengolahnya sempat menemui kesulitan.  “Dulu susah mbak menggerakkan warga untuk memilah sampah. Mereka beralasan nggak usah ngurusin sampah, tinggal dibuang atau dibakar, kan selesai.” 
Sekarang warga sendiri yang menjual sampah-sampah tersebut ke pengepul. “Saya sendiri punya kontak pengepul, jadi kalau sampah kertas saya sudah banyak, saya menghubungi pengepul itu,” ujar Gambir. Sampah kertas dihargai Rp 800 hingga Rp 1.500 per kilogram, tergantung jenis kertas.

November 26, 2010

Kontemplasi

Berasal dari bahasa Inggris, menurut Cambridge Dictionary contemplate: to spend time considering a possible future action, or to consider one particular thing for a long time in a serious and quite way

Contemplation: when you spend time thinking about something in a serious and quite way.

Melewatkan waktu memikirkan kemungkinan tindakan di masa mendatang, memikirkan satu hal khusus dalam waktu lama dengan cara serius dan tenang. Berkontemplasi selalu berkaitan dengan ketenangan. Siapa sih berkontemplasi dengan hingar-bingar?

October 25, 2010

My 15 Movies List

I just read a note from my friend, she wrote about her 15 favorite movies that stuck in her mind. So try to write my own 15 movies list, and here it's :


Memilih atau Mati

Cemas, bingung, terjebak, bosan. Itu yang aku rasakan kemarin Jumat (22/10). Bukan berarti aku tak pernah merasakan itu sebelumnya. Kalut pada hal yang abstrak hingga membuatku serba salah. mau menulis, nggak konsen, nggak bisa. Membaca pun sama saja. Diajak ngobrol temanku nggak minat, diam juga bikin salah. Marah pada segala hal termasuk diri sendiri hingga muak. Berulang kali terlintas bayangan aku terjun dari tempat tinggi.

Bosan dengan rutinitas. Kalimat ini kurang tepat, rutinitas biasanya dikaitkan dengan pekerjaan, bekerja, Lebih tepatnya adalah bosan dengan rutinitas mencari pekerjaan yang tak kunjung aku dapatkan. Itu adalah paradoks. Aku tidak bekerja, tapi pikiranku dipenuhi oleh pekerjaan, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Itu sebuah pekerjaan juga. Dalam keadaan seperti yang aku alami saat ini -punya banyak waktu luang- maka punya waktu berpikir, berpikir apapun, termasuk pikiran-pikiran krisis; kecenderungan bunuh diri, kecemasan eksistensial, krisis self image, kebosanan. Sebutkan apa lagi? aku pernah berpikir tentang itu. Itu tak terlalu menyenangkan. Saat seseorang bekerja, pikirannya lebih fokus pada rutinitas pekerjaannya yang membuatnya merasa berguna dan tak terlalu sering berpikir tentang pikiran-pikiran macam tadi.

October 12, 2010

Post Rock



Bermula pada suatu malam saat aku berada di warnet di daerah Selokan Mataram. Sembari menunggu loading, iseng aku membuka koleksi lagu-lagu yang dimiliki warnet itu. Lumayan buat menambah koleksi. Folder yang aku tuju adalah folder musik Barat. Karena aku cenderung menyukai lagu manca ketimbang lagu persada. Folder tersebut terdiri dari berbagai folder yang disusun berdasar abjad. Satu persatu folder aku klik, liat koleksi-koleksi lagunya, putar di winamp, jika bagus aku copy ke flashdisk. Saat di folder E aku buka, ada subfolder bertuliskan Explosions In The Sky - All of A Sudden, I Miss  Everyone. Aku klik, lantas aku dengarkan beberapa track. Tak ada vocal penyanyi. Berdurasi lumayan panjang lagi. “Wah, bagus juga diputer kalo lagi ngetik nih,” pikirku. Ya, aku menyukai music instrument –tanpa vocal penyanyi- agar aku lebih berkonsentrasi mengetik alih-alih pindah-pindah lagu. Lantas aku copy file mp3 itu ke flashdiskku. 
Saat di Himmah, aku tunjukkan mp3 itu ke Ricky, salah satu temanku yang berselera musik bagus. Kami sering bertukar lagu. Suatu ketika dia cari bertanya padaku apa aku punya mp3 album Maksim, dan waktu aku mendapatkan album mp3 maksim di warnet yang aku sebutkan di atas. “Ki, aku punya lagu bagus, dengerin deh,” kataku. Lantas dia mendengarkan salah satu track. “Band apa ini?” tanyanya.
“Explosions In The Sky,” jawabku.
Dia berkomentar bahwa lagu itu bagus.
Sejak itu dalam berbagai kesempatan, maksudku saat aku berada di depan computer—aku sering memutar lagu dari Explosions In The Sky. Dua track yang sering aku putar adalah So Long, Lonesome dan Catastrophe and The Cure. Lagu band ini sering aku putar kala suntuk. Salah satu lagu mereka jadi backsound di iklan kampanye soal pemanasan global-nya Al Gore lho.
Pam2 yang mau nggak mau sering mendengar lagu versi pilihanku saat kami lagi di Himmah berkomentar, “Busyet, lagumu kaya backsound di film-film thriller.”
“Biarin, ini keren Pam,” tukasku
Soal jenis musik aku memang tidak terlalu paham, saat aku suka suatu lagu aku biasanya dari melodi, lalu liriknya. Lagu yang nggak ada vokalnya seperti music klasik aku sukai karena jika mengetik atau menulis sambil mendengarkan itu aku bisa berkonsentrasi pada ketikan daripada ke lagunya.
Waktu ngenet iseng browsing tentang band Explosions in The Sky, ternyata mereka dari Texas. Melihat video klip mereka di Youtube lalu aku share ke mbak Weka, salah satu temanku yang juga berselera musik bagus. Dia banyak tahu tentang music klasik. Waktu aku share aku bilang mbak ini instrumennya bagus.
Nah Dhani, temenku komen ke share-ku bilang band selain Explosions In The Sky yang beraliran sama seperti God Speed Your Emperor, Mogwai. Dari dia aku tahu jenis musik yang baru saja aku sukai. Post rock.
Suatu ketika Ricky bilang punya koleksi lagu-lagu bagus. Seperti biasa jawabanku, “Copy ke computer Himmah ya.” Darinya aku dapat file mp3 God Is An Astronaut. Lantas kemudian The American Dollar.
Menurut beberapa situs yang aku baca. Band post rock punya kesamaan : no vocal. Post rock menggabungkan karakteristik dari berbagai genre music termasuk ambient, jazz, electronica. Post rock adalah genre music yang punya karakteristik penggunaan instrument umumnya dihubungkan dengan musik rock, tapi menggunakan ritme, harmonies, melodi dan warna nada yang biasanya tidak ditemukan dalam rock. Musisi post rock secara khas menciptakan musik instrumental.
Ya, ini jenis music keren untuk dinikmati.[]