October 12, 2010

Post Rock



Bermula pada suatu malam saat aku berada di warnet di daerah Selokan Mataram. Sembari menunggu loading, iseng aku membuka koleksi lagu-lagu yang dimiliki warnet itu. Lumayan buat menambah koleksi. Folder yang aku tuju adalah folder musik Barat. Karena aku cenderung menyukai lagu manca ketimbang lagu persada. Folder tersebut terdiri dari berbagai folder yang disusun berdasar abjad. Satu persatu folder aku klik, liat koleksi-koleksi lagunya, putar di winamp, jika bagus aku copy ke flashdisk. Saat di folder E aku buka, ada subfolder bertuliskan Explosions In The Sky - All of A Sudden, I Miss  Everyone. Aku klik, lantas aku dengarkan beberapa track. Tak ada vocal penyanyi. Berdurasi lumayan panjang lagi. “Wah, bagus juga diputer kalo lagi ngetik nih,” pikirku. Ya, aku menyukai music instrument –tanpa vocal penyanyi- agar aku lebih berkonsentrasi mengetik alih-alih pindah-pindah lagu. Lantas aku copy file mp3 itu ke flashdiskku. 
Saat di Himmah, aku tunjukkan mp3 itu ke Ricky, salah satu temanku yang berselera musik bagus. Kami sering bertukar lagu. Suatu ketika dia cari bertanya padaku apa aku punya mp3 album Maksim, dan waktu aku mendapatkan album mp3 maksim di warnet yang aku sebutkan di atas. “Ki, aku punya lagu bagus, dengerin deh,” kataku. Lantas dia mendengarkan salah satu track. “Band apa ini?” tanyanya.
“Explosions In The Sky,” jawabku.
Dia berkomentar bahwa lagu itu bagus.
Sejak itu dalam berbagai kesempatan, maksudku saat aku berada di depan computer—aku sering memutar lagu dari Explosions In The Sky. Dua track yang sering aku putar adalah So Long, Lonesome dan Catastrophe and The Cure. Lagu band ini sering aku putar kala suntuk. Salah satu lagu mereka jadi backsound di iklan kampanye soal pemanasan global-nya Al Gore lho.
Pam2 yang mau nggak mau sering mendengar lagu versi pilihanku saat kami lagi di Himmah berkomentar, “Busyet, lagumu kaya backsound di film-film thriller.”
“Biarin, ini keren Pam,” tukasku
Soal jenis musik aku memang tidak terlalu paham, saat aku suka suatu lagu aku biasanya dari melodi, lalu liriknya. Lagu yang nggak ada vokalnya seperti music klasik aku sukai karena jika mengetik atau menulis sambil mendengarkan itu aku bisa berkonsentrasi pada ketikan daripada ke lagunya.
Waktu ngenet iseng browsing tentang band Explosions in The Sky, ternyata mereka dari Texas. Melihat video klip mereka di Youtube lalu aku share ke mbak Weka, salah satu temanku yang juga berselera musik bagus. Dia banyak tahu tentang music klasik. Waktu aku share aku bilang mbak ini instrumennya bagus.
Nah Dhani, temenku komen ke share-ku bilang band selain Explosions In The Sky yang beraliran sama seperti God Speed Your Emperor, Mogwai. Dari dia aku tahu jenis musik yang baru saja aku sukai. Post rock.
Suatu ketika Ricky bilang punya koleksi lagu-lagu bagus. Seperti biasa jawabanku, “Copy ke computer Himmah ya.” Darinya aku dapat file mp3 God Is An Astronaut. Lantas kemudian The American Dollar.
Menurut beberapa situs yang aku baca. Band post rock punya kesamaan : no vocal. Post rock menggabungkan karakteristik dari berbagai genre music termasuk ambient, jazz, electronica. Post rock adalah genre music yang punya karakteristik penggunaan instrument umumnya dihubungkan dengan musik rock, tapi menggunakan ritme, harmonies, melodi dan warna nada yang biasanya tidak ditemukan dalam rock. Musisi post rock secara khas menciptakan musik instrumental.
Ya, ini jenis music keren untuk dinikmati.[]



No comments:

Post a Comment