Bermula pada
suatu malam saat aku berada di warnet di daerah Selokan Mataram. Sembari
menunggu loading, iseng aku membuka
koleksi lagu-lagu yang dimiliki warnet itu. Lumayan buat menambah koleksi.
Folder yang aku tuju adalah folder musik Barat. Karena aku cenderung menyukai
lagu manca ketimbang lagu persada. Folder tersebut terdiri dari berbagai folder
yang disusun berdasar abjad. Satu persatu folder aku klik, liat koleksi-koleksi
lagunya, putar di winamp, jika bagus aku copy ke flashdisk. Saat di folder E
aku buka, ada subfolder bertuliskan Explosions In The Sky - All of A Sudden, I Miss Everyone. Aku klik, lantas aku
dengarkan beberapa track. Tak ada vocal penyanyi. Berdurasi lumayan panjang
lagi. “Wah, bagus juga diputer kalo lagi ngetik nih,” pikirku. Ya, aku menyukai
music instrument –tanpa vocal penyanyi- agar aku lebih berkonsentrasi mengetik
alih-alih pindah-pindah lagu. Lantas aku copy file mp3 itu ke flashdiskku.
Saat di Himmah,
aku tunjukkan mp3 itu ke Ricky, salah satu temanku yang berselera musik bagus.
Kami sering bertukar lagu. Suatu ketika dia cari bertanya padaku apa aku punya mp3
album Maksim, dan waktu aku mendapatkan album mp3 maksim di warnet yang aku
sebutkan di atas. “Ki, aku punya lagu bagus, dengerin deh,” kataku. Lantas dia
mendengarkan salah satu track. “Band apa ini?” tanyanya.
“Explosions
In The Sky,” jawabku.
Dia
berkomentar bahwa lagu itu bagus.
Sejak itu
dalam berbagai kesempatan, maksudku saat aku berada di depan computer—aku
sering memutar lagu dari Explosions In The Sky. Dua track yang sering aku putar
adalah So Long, Lonesome dan Catastrophe and The Cure. Lagu band ini sering aku
putar kala suntuk. Salah satu lagu mereka jadi backsound di iklan kampanye soal
pemanasan global-nya Al Gore lho.
Pam2 yang
mau nggak mau sering mendengar lagu versi pilihanku saat kami lagi di Himmah berkomentar,
“Busyet, lagumu kaya backsound di film-film thriller.”
“Biarin, ini
keren Pam,” tukasku
Soal jenis
musik aku memang tidak terlalu paham, saat aku suka suatu lagu aku biasanya
dari melodi, lalu liriknya. Lagu yang nggak ada vokalnya seperti music klasik aku
sukai karena jika mengetik atau menulis sambil mendengarkan itu aku bisa
berkonsentrasi pada ketikan daripada ke lagunya.
Waktu ngenet
iseng browsing tentang band Explosions in The Sky, ternyata mereka dari Texas. Melihat
video klip mereka di Youtube lalu aku share ke mbak Weka, salah satu temanku
yang juga berselera musik bagus. Dia banyak tahu tentang music klasik. Waktu
aku share aku bilang mbak ini instrumennya bagus.
Nah Dhani,
temenku komen ke share-ku bilang band selain Explosions In The Sky yang
beraliran sama seperti God Speed Your Emperor, Mogwai. Dari dia aku tahu jenis
musik yang baru saja aku sukai. Post rock.
Suatu ketika
Ricky bilang punya koleksi lagu-lagu bagus. Seperti biasa jawabanku, “Copy ke
computer Himmah ya.” Darinya aku dapat file mp3 God Is An Astronaut. Lantas
kemudian The American Dollar.
Menurut
beberapa situs yang aku baca. Band post rock punya kesamaan : no vocal. Post
rock menggabungkan karakteristik dari berbagai genre music termasuk ambient,
jazz, electronica. Post rock adalah genre music yang punya karakteristik
penggunaan instrument umumnya dihubungkan dengan musik rock, tapi menggunakan
ritme, harmonies, melodi dan warna nada yang biasanya tidak ditemukan dalam
rock. Musisi post rock secara khas menciptakan musik instrumental.
Ya, ini
jenis music keren untuk dinikmati.[]
No comments:
Post a Comment