Cemas, bingung, terjebak, bosan. Itu yang aku rasakan kemarin Jumat (22/10). Bukan berarti aku tak pernah merasakan itu sebelumnya. Kalut pada hal yang abstrak hingga membuatku serba salah. mau menulis, nggak konsen, nggak bisa. Membaca pun sama saja. Diajak ngobrol temanku nggak minat, diam juga bikin salah. Marah pada segala hal termasuk diri sendiri hingga muak. Berulang kali terlintas bayangan aku terjun dari tempat tinggi.
Bosan dengan rutinitas. Kalimat ini kurang tepat, rutinitas biasanya dikaitkan dengan pekerjaan, bekerja, Lebih tepatnya adalah bosan dengan rutinitas mencari pekerjaan yang tak kunjung aku dapatkan. Itu adalah paradoks. Aku tidak bekerja, tapi pikiranku dipenuhi oleh pekerjaan, keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Itu sebuah pekerjaan juga.
Dalam keadaan seperti yang aku alami saat ini -punya banyak waktu luang- maka punya waktu berpikir, berpikir apapun, termasuk pikiran-pikiran krisis; kecenderungan bunuh diri, kecemasan eksistensial, krisis self image, kebosanan. Sebutkan apa lagi? aku pernah berpikir tentang itu. Itu tak terlalu menyenangkan. Saat seseorang bekerja, pikirannya lebih fokus pada rutinitas pekerjaannya yang membuatnya merasa berguna dan tak terlalu sering berpikir tentang pikiran-pikiran macam tadi.
Apa membayangkan diri terjun dari sebuah tempat yang amat tinggi adalah bentuk keinginan bunuh diri? yang terbayang saat itu adalah aku terjun dari tempat tinggi tapi tak kunjung mencapai dasar. Seperti ilustrasi dalam film At The Very Bottom of Everything, sebuah boneka terjun ke dalam kegelapan lama hingga mencapai dasar, dan boneka itu adalah aku. Perasaanku sangat muak pada diri sendiri, orang-orang, masyarakat, keadaan. Sick to death. Berpikir tentang semua itu membuatku terhenyak. Apa Anda pernah jengkel dan marah pada seseorang, lantas memikirkan skenario balas dendam yang amat jahat, hingga Anda terhenyak dan bergumam, "Kok aku bisa berpikir sejahat itu ya?" atau dalam kasusku, "Kok aku seputus-asa itu hingga berpikir seperti itu? kemana perginya semua pikiran sehat dan rasionalku?" Itu sangat mengerikan, karena kita tahu kita bisa melakukan itu. Setidaknya aku tahu.
Aku cemas akan banyak hal. "Kapan aku bekerja? apa aku bisa hidup makmur? tak menjadi benalu, bisakah aku hidup setelah ini?" dan seterusnya. Aku mencemaskan masa depan, itu adalah sesuatu abstrak. Tentang keberadaan aku sebagai manusia. Saat orang bekerja dia merasa berguna. Menyitir Hegel bahwa hanya melalui kerjalah manusia mempu mengaktulisasikan dirinya ke tingkat maksimal, menemukan keutuhan dirinya (tapi buat mereka yang sedang bosan dengan rutinitas kerja pasti akan senang hati mengutip pernyataan Marx bahwa kerja membuat manusia teralienasi). Berbagai komentar dan pertanyaan dari orang-orang tentang bekerja terkadang membuat aku merasa tidak berguna. Saat aku menginginkan sebuah pekerjaan karena aku menyukainya, tapi tidak sangat menjanjikan menurut standar mereka, jika hal-hal yang aku ketahui, lakukan tidak dianggap oleh mereka.
Siapa aku? siapa Anda? bagaimana cara Anda menjawab pertanyaan itu? sering kita menjelaskan diri kita dengan berbagai pelabelan yang ternyata sudah melekat sejak kita lahir, bisa berupa keluarga, suku, agama, bangsa. Yang kentara bahwa kita menjelaskan keberadaan kita dengan nama, kedudukan, profesi, apa yang kita punya. Itu adalah kebiasaan di masyarakat, dan masyarakat secara umum menilai identitas kita adalah dari pekerjaan kita. Itu cara sebagian besar dari kita memandang, tak hanya memandang orang lain tapi juga cara kita memandang diri sendiri. Hidup di era kapitalisme macam sekarang mengkondisikan itu. Misal Anto adalah laki-laki yang bekerja sebagai buruh, Sari adalah seorang dokter. Maka saya yang sedang tidak bekerja kesulitan untuk menjelaskan siapa saya menurut standar yang berlaku di masyarakat. Misni seorang...(perempuan yang sedang mencari kerja untuk membangun hidupnya). Jika menjawab seperti itu tidak praktis jika dilihat dari segi kepraktisan.
Kebosanan adalah akar kejahatan , dewa-dewa bosan maka mereka menciptakan manusia. Adam bosan seorang diri, maka diciptakan Hawa. begitu kata Søren Kierkegaard. Kebosanan (acadia-bahasa latin yang berarti not to care) oleh Gereja pada abad pertengahan dianggap sebuah dosa. Kita memilah mana yang menarik mana yang tidak. Seperti anak kecil main bola bosan, ganti main mobil-mobilan, bosan lantas main entah apa lagi. Bukannya dalam hidup kita sering seperti itu? Bagiku kebosanan berkaitan erat dengan ketidaksabaran dalam berproses. Akibatnya kita jadi tidak peduli. Aku sering begitu.
Aku tahu bahwa hidup adalah sebuah keniscayaan dengan berbagai pilihan. Hidup adalah ketidakpastian, keharusan memilih dan memutuskan persoalan bikin menderita, karena kita informasi yang tidak lengkap. Sekali aku mengambil suatu pilihan, pada saat yang sama aku menyingkirkan pilihan yang lain. Itu bagian dari drama eksistensi manusia. Pilihan, kebebasan, kecemasan. Itu tema yang sering dibahas dalam filsafat eksistensialisme. Aku rasa benar apa yang diutarakan Johann Gottlieb Ficthe, "Jenis filsafat yang dipilih seseorang bergantung pada jenis kepribadian orang itu," sebuah kutipan yang aku baca dari buku The Story of Philosophy. Dalam beberapa hal aku sepakat dengan filsafat eksistensialisme.
Mempertanyakan ulang segala sesuatu yang aku yakini dalam hidupku. Ya, aktivitas mempertanyakan ulang semacam itu bukan sesuatu yang tiap saat kita lakukan, bukan? Karena ada rutinitas yang bikin pikiran kita lebih rileks. Biasanya sih muncul saat kita sedang mengalami krisis, saat beberapa hal berjalan tidak seperti yang diharapkan. Kira kira begini, kamu tahu bahwa hidup tidak pasti, selalu berubah. Tapi ada kondisi yang sepertinya selalu sama beberapa waktu lama. Misal keadaan tidak bekerja, lantas kamu berpikir, apa ada yang salah? apa yang harus aku ubah? Well, Thanks God I'm in crisis!
Setelah aku merenungkan, bahwa kehidupan manusia adalah sebuah ketidakpastian. Maka aku harus lebih fleksibel menghadapi ketidakpastian itu. Aku yang fana dan terbatas. Mengulas ulang komitmen, cukup kuat atau cuma sekilas lalu? Selama ini tak ternyata tak cukup kuat berkomitmen, karena masih merasa cemas pada masa depan. Karena berkomitmen berarti membuat masa depan yang bersifat tidak pasti menjadi pasti setidaknya dalam subjektivitas manusia. Beriman pada yang kekal dan tak terbatas, usaha mendekat pada yang Tak terbatas dalam keterbatasan. Jika dalam istilah yang diungkapkan Kierkegaard adalah melakukan lompatan iman. Bagiku itu tidak mudah, kerap kali tergelincir lupa pada komitmen, tidak sabar. Soal lompatan iman sudah sering aku ketahui, ya, seperti yang aku katakan di atas, sering baca tentang filsafat dan hal yang berkaitan dengan itu, lantas mengalami hal yang berbeda. Lantas, mulai mempertanyakan ulang? “yang aku baca begini? Sedang yang aku rasakan adalah sebaliknya, maka mesti bagaimana?”
Membaca dan menulis itu mengumpulkan ingatan, seperti mengingatkan kita. Suatu ketika aku merenung betapa introvertnya aku, mesti orang lain dulu yang mengajak berkenalan, jarang banget berinisiatif untuk berkenalan. Namun aku punya teman yang kebalikan denganku, biasanya dia yang mengenalkan temannya padaku. Nah, bagaimana jika tidak ada temanku? Kami tak bisa selalu bersama, bukan? Lantas tak sengaja membaca di salah satu halaman buku “Postmodernisme” –padahal aku udah berulang kali baca buku itu- dan menemukan kalimat, “Anda dapat memiliki imej tentang diri Anda sendiri sebagai seseorang introvert, tapi untuk siapa imej ini? Siapa dan apa yang membantu untuk merencanakan ini ke dalam jiwa Anda?” Kalimat itu seperti menjawab pertanyaanku. Apa ini cara Tuhan menjawab? Entahlah. Tapi hal seperti itu sering terjadi.
Jadi setelah proses merenung, membaca, aku tahu hidupku di dunia yang absurd ini layak untuk diperjuangkan, aku yang memaknai hidup ini. Dan berkomitmen pada itu. Hidup tidak ditentukan oleh keramaian, jadi tak perlu terlalu memusingkan penilaian orang-orang. Cukup berbuat yang terbaik menurut kemampuanku dan bersabar karena segala sesuatu pasti berubah. Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Bukan begitu, Tuhan?

No comments:
Post a Comment