August 16, 2010

Kala Ramadhan Kembali Datang

 Bulan Ramadhan datang, bulan yang istimewa buat umat muslim, terutama. Karena dari segi agama, barangsiapa yang berpuasa karena mencari ridha Allah akan diampuni dosa-dosanya. Dalam bahasa saya bulan obral pahala. Segala hal (baik) yang kita lakukan itu berpahala, bahkan saat tidur. Sewaktu kecil, guru ngaji saya bilang pada bulan ini setan dirantai, pintu neraka ditutup, pintu surga dibuka lebar-lebar. Kira-kira apa ya selalu ada, terjadi saat bulan Ramadhan? penjual makanan kecil mendadak bermunculan menjelang berbuka. Jadi ingat dulu pernah reportase soal penjual makanan berbuka di boulevard UII untuk bulletin Kobarkobari. Titik-titik keramaian makin macet karena banyak orang ngabuburit. Café-café, tempat nongkrong ramai-ramai bikin acara yang memanfaatkan jam ngabuburit, begitu pun stasiun radio.



Banyak pihak bikin acara “berbuka bersama anak panti asuhan A, B, C”. Banyak pihak yang mendadak dermawan. Bukan hal yang salah, memang dari sisi agama ada dorongan karena ada sekian janji pada bulan Ramadhan. benar, nilai sesungguhnya kita berpuasa, bersedekah hanya Allah yang dapat melihatnya. Nah, di situ letak berbahaya, karena bulan ini adalah bulan diskon amal, salah-salah ketika kita berpuasa, bersedekah karena ingin punya citra di mata orang lain. Bukan keinginan mendapatkan ridha Allah. Misal si A kemarin baru saja menyumbang sebuah panti asuhan sekian juta, maka saya juga harus menyumbang dengan nomimal lebih banyak. Masjid-masjid ramai disambangi jemaah yang menunaikan shalat berjemaah. Acara pengajian dan kuliah-kuliah keagamaan lebih sering diadakan. Sayang, perlahan tapi pasti jumlah jemaah masjid mulai berkurang menjelang akhir bulan Ramadhan. Hanya sebagian jemaah yang tetap setia shalat berjemaah di masjid. Beberapa di antaranya beriktikaf, biasanya pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Buat mahasiswa atau anak rantau yang berkantong cekak melakukan touring masjid ke masjid untuk berbuka puasa atau sekadar mencari ta’jilan. Akan lebih baik lagi jika mengikuti acara pengajian dan shalat berjemaahnya juga. Untuk anak rantau, bulan Ramadhan adalah bulan yang paling bikin homesick, bagaimana tidak? Ketika sahur di rumah sendiri, kita tinggal bangun sementara makanan sudah disiapkan. Saat di rantau, kita harus cari sendiri makanan buat sahur, pagi buta pergi ke rumah makan. Saya juga merasakan hal semacam itu. Bagiku yang paling teringat adalah ketika sahur bersama teman-teman di Himmah dengan dua menu utama : gudeg atau nasi padang. Karena di dekat Himmah hanya ada warung nasi padang dan gudeg. Sebenarnya untuk kalangan berkantong tebal cukup banyak pilihan, di dekat Himmah ada McD dan KFC yang buka 24 jam. Sahur dengan menu dari dua restoran cepat saji seperti itu? Nggak deh. Cepat saji, cepat pula laparnya.

Jam buka dan tutup tempat hiburan malam berubah, beberapa organisasi yang mengatasnamakan Islam makin getol melakukan sweeping. Di beberapa tempat mereka juga melakukan sweeping pada warung-warung yang buka siang hari. Tindakan yang menurutku aneh, apa semua orang berpuasa, bagaimana dengan yang non-muslim dan muslim yang kebetulan sedang tak berpuasa karena berhalangan? Mereka tetap membutuhkan penjual-penjual makanan itu, lagipula penjual-penjual tersebut sudah tahu diri dengan menutup sebagian tirai rumah makan agar orang yang melintas tak bisa melihat pengunjung di dalam yang sedang makan. Dan entah kenapa justru organisasi “militer wannabe” yang getol melakukan itu, bukan pihak yang berwenang untuk melakukan hal semacam itu, yaitu kepolisian. Upaya sweeping menurutku tidak menyelesaikan masalah. Peraturan perundang-undangan tak pernah dipedulikan, belum lagi sikap tebang pilih dalam sweeping. Harus ada upaya lain, misal memberi ketrampilan bagi pedagang yang biasa minuman keras sehingga punya pilihan berganti dagangan, pinjaman modal lunak. Jika kepolisian melaksanakan aturan dengan tegas, menurutku tak ada lagi kelompok-kelompok massa yang main hakim sendiri.

Seperti biasa harga kebutuhan bahan pokok beranjak naik mendekati bulan Ramadhan. Para kapitalis makin senang, bagi mereka bulan Ramadhan adalah bulan yang tepat membujuk konsumen makin konsumtif. Lihat saja, pusat-pusat perbelanjaan bikin diskon sekian persen. Bahkan ada yang bikin diskon khusus saat idul fitri. Seperti Great Sale 70 % + 20 %, berbagai penawaran gadget, macam HP disesuaikan dengan momen, HP yang dijual saat bulan Ramadhan dilengkapi ringtone Islami, bahara petuah bijak dan sebagainya. Operator seluler beramai-ramai bikin promo untuk memperebutkan pelanggan dengan berbagai macam bahara bulan Ramadhan, mulai telepon murah, sms murah, dll. Kenyamanan dalam berkomunikasi menjadi taruhannya, seringkali sms pending, error karena jaringan sibuk dsb. Kita sebagai pelanggan tidak lagi merasa nyaman berkomunikasi. Penyanyi beramai-ramai bikin album bertema religi. Jika sekitar 15 tahun lalu, lagu yang biasa muncul saat Ramadhan adalah lagu-lagu karya Bimbo dan sebuah lagu yang dipopulerkan Novia Kolopaking, kemudian yang sedikit baru adalah lagu-lagu yang dinyanyikan Hadad Alwi dan Sulis, lantas ada Opick. Ya boleh dibilang mereka adalah penyanyi yang konsen di bidang itu. Spesialis lagu-lagu religi, begitu kira-kira. Sejak tiga tahun lalu makin banyak penyanyi pop (mereka yang biasanya bikin lagu cinta mendayu-dayu lalu bikin album khusus bertema religi). Di sisi bisnis ini jelas menggiurkan karena segmentasi pasar jelas dan kuat, namun tak banyak musisi yang menggarapnya.

Coba amati program televisi. Pemeran pada sinetron stripping yang sebelumnya tak memakai kerudung, mendadak diceritakan berkerudung. Begitu pun pemeran pria, mendadak berbaju koko. Makin sering adegan orang yang berdoa, adegan ke masjid, atau sebaliknya. Hingga lima tahun lalu cerita sinetron berkisar, seorang perempuan berkarakter protagonis yang mengalami cobaan dari tokoh antagonis -biasanya dari mertua- selama bulan Ramadhan, kemudian menjelang akhir Ramadhan tokoh antagonis insaf dan bertobat. Pada saat Idul Fitri mereka saling memaafkan. Seperti biasa, sinetron menggampangkan solusi sebuah masalah. Absurd happy ending.

Efek dari film Ayat-Ayat Cinta, kemudian dibikin sinetron khusus Ramadhan dengan tokoh yang memang digambarkan berkerudung, meski dengan modus cerita yang serupa. Tunggu saja tak beberapa lama jika kita pergi ke pusat perbelanjaan, ada banyak istilah kerudung -seperti yang dikenakan tokoh-tokoh sinetron. Tiga tahun kemarin, program sinetron PPT -dari segi cerita sangat berbeda dengan mainstream sinetron kala itu- tapi mendapat rating cukup tinggi. Menurut survey AC Nielsen tahun 2008 rata-rata share 32 persen. Sinetron bertema religi namun tak berkesan menggurui. Menjelang Ramadhan kali ini sepertinya banyak sinetron yang “PPT wannabe”. Acara-acara menjelang berbuka dan sahur didominasi dengan lawakan-lawakan. Acara-acara ramadhan di televisi tahun lalu seperti SKS, Dahsyatnya Sahur mendapat kritik dari MUI karena penuh adegan seronok dan caci maki. Pertanyaan yang diajukan saat kuis juga cenderung tidak bermutu. Acara lawakan itu biasanya berdurasi 1-2 jam, sedangkan acara kajian keagamaan biasa berdurasi maksimal satu jam. Hanya sedikit acara yang benar-benar menyentuh nilai keagamaan.

Kesempatan bertemu dan berkumpul dengan keluarga, sanak keluarga, teman memang langka. Saat Ramadhan dan lebaran memberi kita kesempatan langka itu. Fenomena mudik memberi gambaran tentang distribusi ekonomi yang tidak merata, beramai-ramai orang pulang dari daerah urban ke kampong dengan segala jerih payahnya. Mudik juga memberi gambaran betapa carut marut penanganan transportasi umum. Arus mudik di jalur utara atau selatan pasti akan terganggu dengan upaya perbaikan jalan. Bukankah ada sekian bulan antara lebaran tahun lalu dan lebaran tahun ini yang bisa digunakan untuk memperbaiki jalan? Bagaimana sengkarutnya transportasi terutama kelas ekonomi. Pelayanan cenderung lamban dan tidak memuaskan, keamanan minim, kualitas transportasi buruk. Sementara orang-orang dipaksa berdesakan, nyaris seperti tumpukan ikan. Yah, karena kita terkepung di jaman konsumerisme macam sekarang. Saat berkumpul dengan keluarga ternyata juga digunakan sebagai ajang pembuktian individu atas kerja kerasnya. Bukan hal yang salah, hanya saja terkadang seseorang berusaha terlalu keras agar dia dapat citra dari orang lain sebagai orang sukses. Terkadang forum yang seharusnya adalah ajang silaturahmi berubah jadi ajang pamer. Sengaja atau tidak. Kalau sudah kaya gitu kemana perginya semua sikap yang ditempa saat bulan Ramadhan. Seperti sikap ikhlas, sikap tawadhu? Idul Fitri sering disebut sebagai hari kemenangan, karena kita telah memenangkan pertahungan melawan hawa nafsu. Sebuah pertarungan yang menurut nabi Muhammad adalah pertarungan paling sulit. Tak heran, nabi sudah mewanti-wanti bahwa dari sekian orang yang berpuasa kebanyakan dari mereka hanya mendapatkan rasa lapar.

Suatu kita alami berulang kali maka kekhasannya bisa berangsur-angsur memudar. Seperti halnya tradisi. Senang rasanya dan bersyukur masih bisa menikmati bulan Ramadhan tahun ini. Namun karena masih mengira bahwa Ramadhan tahun depan masih bisa kita nikmati, jadinya ya Ramadhan tahun ini dirasakan biasa saja. Tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Semoga kita semua mengalami bulan Ramadhan yang dapat meninggikan derajat kita sebagai manusia dan hamba Allah. Tak seperti acara-acara Ramadhan di televisi tiap tahun yang monoton.[]

No comments:

Post a Comment