Awalnya berencana tidur lebih awal, tapi nggak bisa tidur karena anak kost sebelah rame banget, teriak-teriak nggak jelas. Akhirnya malam ini ditemani mp3 petikan gitar Depapepe mengalun, membaca buku harian dan mengingat kejadian-kejadian yang lalu. Memandangi foto-fotoku sewaktu kecil, ada foto sewaktu masih bayi. Hari-hari yang telah meninggalkan jam dari setiap detik, setiap kenangan. “Apa saja yang telah aku lewati hingga saat ini?”
Banyak hal yang aku lewati, hal yang menyesakkan jika diingat. Terkadang kehilangan diri dalam ketakutan, dalam rutinitas. Terjebak dalam labirin. Namun aku mesti mengada –hidup tak bermakna hingga kita sendiri yang memberinya makna. Eksistensi mendahului esensi. Keputusanku, tindakanku kala itu yang memberi makna dalam hidup. Pun keputusan dan tindakanku kelak.
Waktu, masa lalu, kini, dan mendatang.
Waktu,seperti musuh yang selalu mengejar, sulit kita kalahkan. Sekian banyak filsuf yang mencoba memahami apa itu waktu. Teka-teki apakah waktu itu hampir setua teka-teki manakah yang lebih dulu, ayam atau telur.
Selama dua puluh lima tahun ini aku sering lupa, setiap menit berlalu menguap. Waktu terus memperpendek detik hingga usia berakhir. Usia tak sekedar deretan angka di atas kue tart, bukan?
Tubuhku makin renta, sedikit demi sedikit kulit mengkerut. Dan produk-produk kecantikan makin gencar menawarkan produk kecantikan mencegah kerutan-kerutan. Kalaupun produk itu bisa mencegah kerutan, apa itu bisa mencegah waktu?
Seperti kata Heraclitus, “segala sesuatu terus mengalir.” Begitupun waktu, tak ada yang bisa menghentikan waktu. Kita tidak bisa menyeberangi sungai yang sama dalam keadaan yang sama dua kali. Kehidupan mengalir, akan ke mana ujungnya?
Filsuf Yunani lainnya, Heidos. Waktu adalah siklus. Daur melingkar. Bertemu kawan di hari Senin yang sama, pukul yang sama, tapi kedirian yang berbeda. Aku sekarang tentu berbeda dengan aku lima menit yang lalu.
Lain lagi bagi Einstein, menurutnya waktu itu relatif. Perumpaman yang terkenal, Jika kau berada dekat gadis cantik satu jam seperti sedetik. Saat kau duduk di perapian yang menyala selama sedetik serasa seperti satu jam.
Karena itu, waktu berkaitan erat dengan persepsi manusia. Lama, sebentar itu berhubungan dengan persepsi dan kesadaran.
Saat ingat masa lalu sering berkhayal punya mesin waktu, pergi ke masa lalu dan berusaha memperbaiki keadaan. Memperingatkan aku di masa lalu untuk tak melakukan sesuatu yang akan menyebabkan aku di masa datang menderita –namun aku di masa lalu tak boleh bertemu dengan aku di masa datang- seperti film fiksi ilmiah Back To The Future. Atau pergi ke masa saat Karl Marx dan pemikiran komunisme nya berjaya, bilang pada Karl Marx, bahwa teori perubahan masyarakat bahwa kapitalisme akan runtuh digantikan oleh sosialisme –sampai tahun 2010 kapitalisme makin kuat- tak terbukti. Atau kembali ke masa lalu saat Soekarno menandatangani kesepakatan KMB. Bilang pada sampai usia Indonesia 64 tahun sebagian besar rakyat masih hidup dalam kemiskinan, negara terlilit hutang, dan rakyat mesti membayarnya. Dan mencari tahu siapa sebenarnya yang membawa dokumen sebelas maret. Hingga sejarah kita tidak diributkan dengan perdebatan di mana sebenarnya dokumen itu. Heroik? Entahlah.
Aku tak tahu jika sungguh ada mesin waktu semacam itu, apakah hidupku saat ini menjadi lebih baik. Seperti Evan, tokoh di fim The Butterfly Effect, punya kekuatan kembali ke masa lalu dengan cara membaca buku hariannya. Ia ingin menyelamatkan sang kekasih, Kayleigh. Mengubah hidupnya, sahabat, kekasihnya. Tiap hal yang ia lakukan membawa konsekuensi lain. Akhirnya ia harus mengambil keputusan mana yang ingin ia ubah.
Menyenangkan punya imajinasi semacam itu. Tapi sekarang kembali ke realitas, di masa kini, di sini, sekarang. Sudah cukup bicara tentang masa lalu. Aku kira jejakku di dunia terukir pada ingatan orang-orang yang aku kenal, mereka yang mengenalku, berinteraksi denganku. Jejak itu nampak saat seseorang itu menjawab pertanyaan, “Bagaimana Misni di saat hidup? Bagaimana hubungan kalian?
Persinggungan dan interaksi dengan orang lain seperti melengkapi kepingan puzzle diriku. Kita adalah cermin dan wajah di dalamnya.
Aku tak selalu menjadi teman yang menyenangkan. Kerap membuat kesal, aku kira. Maaf atas semua itu. Dan terima kasih sudah memahami. Dan tetap jadi teman. Terima kasih telah melengkapi hidupku. Itu sangat berarti buatku.
Salah satu bahasan Sartre adalah mengenai keyakinan yang buruk. Menurutnya, kebanyakan orang memilih salah satu aspek dari masa lalunya, kemudian memproyeksikan hal itu ke masa depan sebagai bagian dari diri mereka sendiri. Lalu mengklaim itu bagian dari keperibadian, bahwa mereka tidak mempunyai pilihan lain selain bertindak sebagaimana mereka bertindak. Terkadang aku terjebak pada keyakinan yang buruk itu. Setidaknya kini aku telah menulis tentang itu, jika suatu saat aku terjebak lagi, aku bisa ingat bahwa aku punya pilihan lain.
Rani pernah bilang usia dua puluh lima adalah usia red alert. Terutamanya bagi perempuan. Pertanyaan klasik –tapi everlasting- yaitu tentang pernikahan, anak, karir. Well, aku memasuki usia itu. Tak mengapa. Di saat sekarang sering dihinggapi rasa cemas. Kecemasan eksistensial. Ini berkaitan dengan seluruh keberadaanku sebagai manusia. Mempertanyakan hal-hal yang sebelumnya aku yakini. Cemas akan masa depan. Apa yang yang ditawarkan oleh masa depan? Ketidakpastian. Tak ada sesuatupun yang dapat menjamin bahwa masa depanku akan mengikuti ketetapan yang aku buat sekarang. Diriku yang sekarang bukanlah diriku yang akan datang. Yah, masa depan belum dibangun, akulah yang mesti membangunnya. ini tak bisa dihindari, jadi aku menerimanya. Bukankah ini adalah bagian dari drama eksistensi manusia? Membuat pilihan, mengambil keputusan, meski kerap informasi yang kita dapatkan sedikit, cemas jangan-jangan pilihan yang kita ambil salah, dan tak seorangpun bisa memutuskannya untuk kita. Kita sendiri yang memutuskannya.
Camus pernah bilang, jika kehidupan ini begitu absurd, mengapa tidak kita bunuh diri saja? Sisifus, dihukum dewa untuk terus menerus mendorong batu raksasa ke puncak, berulang-ulang. Tapi Sisifus bahagia. Absurditas hidup dijawabnya dengan pemberontakan. Begitupun Prometheus
Dua puluh lima tahun sudah aku menjadi bagian dongeng besar semesta. Usiaku menunjukkan berapa lama aku sudah meminjam dunia. Sialnya, si pemberi pinjaman tak memberitahuku kapan dia akan menarik kembali duniaku. Bertambah tua, sudah pasti. Maka dari itu mulai program lebih menjaga kesehatan. Karena meski aku mempunyai seluruh isi dunia, itu tak bisa ditukar dengan kesehatan. Bagaimana dengan pertumbuhan jiwa? Makin baikkah? Aku menginginkan memasuki usia dua puluh lima ini aku makin baik mentrandensi diri, berproses menentukan dan membentuk diriku.
Lewat pilihan yang aku buat, keputusan yang aku ambil. Hidup otentik. Itu caraku menjejak di dunia.
Tulisan ini sekedar caraku untuk mengingat, bila suatu ketika aku berputus asa karena tak menemukan cahaya terang dalam hidupku. Aku bisa membaca ulang tulisan ini dan menyakinkan diri lagi bahwa aku bisa menemukan cahaya terangku. Ini caraku menghadiahkan pada ulang tahun ke dua puluh lima.[]
27 Desember 2009 02.00 wib

No comments:
Post a Comment