Bagai Raja Midas, yang mampu mengubah apapun menjadi emas. Sekar Gambir Kartini mengubah sampah kering menjadi barang yang bernilai jual tinggi.
Setelah itu warga dusun Klajuran mulai memilah sampah. Di setiap rumah terdapat tiga tong untuk tiga macam sampah, sampah kertas, sampah plastik, dan sampah kaca/logam. Sampah-sampah itu dikumpulkan di stasiun sampah. “Ada petugas yang mengumpulkan, lantas sampah kertas dan sampah kaca dijual ke pengepul, sampah plastik digunakan sebagai bahan dasar membuat tas, dompet,” jelasnya.
Usaha Gambir untuk mensosialisasikan agar warga mau memilah sampah dan mengolahnya sempat menemui kesulitan. “Dulu susah mbak menggerakkan warga untuk memilah sampah. Mereka beralasan nggak usah ngurusin sampah, tinggal dibuang atau dibakar, kan selesai.”
Sekarang warga sendiri yang menjual sampah-sampah tersebut ke pengepul. “Saya sendiri punya kontak pengepul, jadi kalau sampah kertas saya sudah banyak, saya menghubungi pengepul itu,” ujar Gambir. Sampah kertas dihargai Rp 800 hingga Rp 1.500 per kilogram, tergantung jenis kertas.
Limbah kering seperti bungkus isi ulang pewangi pakaian, bungkus isi ulang sabun, bungkus mie instan dikumpulkan lantas diolah menjadi berbagai macam barang seperti tas, dompet, tempat koin, tas laptop. Kini Gambir dan sembilan orang warga dusun Klajuran tergabung dalam Mekar Trashion kewalahan memenuhi pesanan.
UKM Mekar Trashion, begitu nama UKM yang dikelola Gambir dan sembilan warga dusun Klajuran. “Dulu waktu pertama kali pameran kan belum punya nama, lantas panitia memberi nama Mekar, karena nama saya Sekar,” jelas Gambir. Produk-produk berbahan dasar sampah disebut Trashion, akronim dari Trash dan Fashion. Sejak awal tahun 2009 UKM Mekar Trashion menjadi UKM binaan Unilever.
Gambir pun membagikan ketrampilan membuat produk dari sampah ke orang lain. Ia kerap menjadi tutor di beberapa tempat seperti Pekalongan, Ngawi, Pacitan, kecamatan Umbulharjo, dusun Wirokraman. Para peserta pelatihan banyak yang meneruskan kegiatan membuat produk trashion. “Ibu-ibu dari Pacitan yang dulu saya ajari, kini membuat produk itu, mereka minta saya untuk mengirim bahan dasarnya,” ujar Gambir.
Trashion bikinan UKM Mekar Trashion telah banyak dipamerkan. “Kami pameran di acara sekaten, di Bentara Budaya, dan di benteng Vredeburg. Malah bulan Mei kami pameran di Jakarta.”
Tak hanya di Indonesia, produk Mekar pun sampai ke Prancis, “Ada dua orang Prancis namanya Nyonya Nicholas dan Isabella datang ke sini dan membeli 80 buah tas ukuran sedang dan 80 buah dompet, itu akan mereka bawa ke Prancis,” cerita Gambir.
Sampah plastic yang dikumpulkan dari dusun Klajuran tak mencukupi untuk bahan dasar trashion. “Saya mesti beli, biasanya di TPA Piyungan, misal untuk satu kilo plastic bungkus isi ulang kecap harganya Rp 3.000,” jelas Gambir.
Ia berkeinginan kegiatan mengumpulkan dan memilah sampah plastik bisa dilakukan di dusun-dusun lain selain Klajuran. “Pinginnya kan bisa mendapatkan dari lingkungan sekitar, nggak usah jauh-jauh beli. Selain itu kan mengurangi sampah,” lanjutnya.
Gambir merasa perhatian pemerintah, baik pemerintah desa maupun kabupaten kepada usaha yang dikembangkannya kurang, “Sampai saat ini saya malah belum pernah diundang oleh pemerintah Sleman,” ujarnya. Menurut Gambir ibu-ibu rumah tangga di Sleman ini punya potensi dan pintar. Harapannya Pemerintah kabupaten Sleman mengadakan pelatihan-pelatihan mengolah sampah ini untuk memberdayakan ibu-ibu.
“Saya berharap pemerintah tahu atas usaha warganya, sehingga mereka bisa menguri-uri,” harap Gambir. Selama ini biaya untuk mengikuti pameran didapatkan atas bantuan pihak LSM PADMAYA dan Unilever. “kalau ada pameran kami mengajukan proposal dana ke pada mereka,” lanjutnya.
Lewat usaha trashion ini Gambir ingin membantu memberdayakan para ibu rumah tangga. “Sasaran saya dalah ibu rumah tangga yang mempunyai waktu luang, lewat usaha ini kan didapat dua hasil yaitu mengurangi sampah, dan hasil penjualan produk untuk menambah penghasilan,” ujar Gambir.
Mekar Trashion memproduksi tas, baik tas slempang, tas jinjing, tas laptop. Selain itu juga ada dompet, kantong uang, kantong pensil, tempat telepon seluler. Harga jualnya bervariasi dari Rp 20.000 hingga Rp 150.000. “Kami jual dengan harga segitu karena ini seni, membuatnya membutuhkan kreativitas,” ujar Gambir. Sedangkan sisa-sisanya dipotong kecil-kecil sebagai bahan pengisi untuk bantal santai. “Kami berusaha untuk tidak menyisakan sampah,” lanjut Gambir.
Usaha trashion cukup menguntungkan. “Keuntungan bisa 50% lho. Misal sebuah kantong pensil saya jual Rp 20.000. harga parasit sebagai pelapis satu meter Rp 10.000, slerekannya satu rol Rp 10.000 itu bisa untuk membuat sekitar sepuluh kantong pensil,” ujarnya. Gambir selalu menyemangati ibu-ibu yang ingin memulai usaha trashion. “Saya selalu bilang jangan takut tidak laku. Sekarang memakai tas dari bahan sampah seperti ini malah tren.” Ujar Gambir.
Dari setiap produk yang laku dijual, 50 persen disisihkan untuk kas UKM Mekar Trashion, sisanya untuk orang yang membuat produk itu. Ketekunan dan kreativitas. Itu adalah resep Gambir dalam mengembangkan usaha trashion.
Usaha trashion yang dilakukan Gambir adalah bentuk kontribusinya untuk mengurangi sampah plastik, justru dari sampah mendapatkan keuntungan yang menggiurkan.[]
No comments:
Post a Comment