SIDOAGUNG – Jangan anggap remeh jangkrik. Serangga dengan suara krik, krik,
krik, monoton itu bagi sebagian orang bisa menjadi penghibur di kala malam sepi.
Penyanyi keroncong Waljinah pun tentu akan setuju jika jangkrik dikatakan
sebagai binatang paling berjasa untuk karier menyanyinya. Ingat lagu ‘Jangkrik
Genggong’, pasti langsung ingat Waljinah.
Lain lagi bila kita minta pendapat Slamet (43), warga
Perengkembang, Balecatur, Gamping, Sleman. Jangkrik, bagi bapak empat anak itu
menjadi gantungan hidupnya. Selama 15 tahun ia berjualan jenis serangga itu
secara berpindah-pindah menurut hari pasaran pasar tempat ia berjualan.
Ia berjualan bukan dalam partai besar, hanya menjual empat
keranjang kecil jangkrik setiap harinya. Ia pun tidak menempati los pasar
secara resmi, namun hanya berjualan di pinggir jalan bersama-sama dengan
penjual burung, pakan burung, dan lain-lain.
Ditemui siang itu, Slamet kebetulan sedang berjualan di pinggir
Jalan Godean, di seputaran Kantor Pegadaian, yang hanya beberapa meter dari
pasar Godean. Setiap Pon, menurut penanggalan Jawa, ia akan berjualan di tempat
itu. Ketika Pahing ia berada di Pasar Sleman, Wage di pasar Tlogorejo Demakijo,
Kliwon di pasar Cebongan, dan saat Legi akan bergeser ke pasar Gamping.
Begitu rutinitas yang dilakoni Slamet selama belasan tahun.
Terus berputar di pasar-pasar tersebut sesuai hari pasaran. “Kalau
dihitung-hitung, praktis saya berjualan di Godean hanya lima hari sekali.
Begitu juga di tempat lain,” tutur pria berkumis itu sambil sesekali melayani
pembeli yang datang.
Setiap pon, di seputaran Kantor Pegadaian Godean ramai oleh
aktivitas jual-beli burung. Berbagai jenis burung seperti burung gereja,
kenari, merpati, jalak, drekuku dijual di sana. Burung-burung itu dimasukkan
dalam sangkar dengan berbagai ukuran. Selain penjual burung juga penjual pakan
burung seperti kroto, ulat, jangkrik, pisang, dan pakan burung dalam kemasan.
Adanya pasar tiban itu tak pelak kerap menambah kemacetan yang biasa terjadi di
sekitar pasar Godean.
"Tumbas, jangkrik
kalih ewu, Pak," kata seorang pembeli. Slamet pun dengan cekatan
meraup jangkrik-jangkrik dalam kotak. Ia memasukkan kumpulan jangkrik dalam
kantong plastik, lantas ditimbang. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong kertas
yang telah diberi potongan busa. Jangkrik pun berpindah tangan. Jangkrik-jangkrik
itu oleh pembeli dijadikan sebagai pakan burung.
Slamet mengaku, telah berjualan jangkrik sejak 1996. Tak
mempunyai tempat berjualan tetap, setiap pagi ia berangkat dari rumahnya mulai
pukul 05.00 WIB menuju Pasar Burung Dongkelan Yogyakarta. Menggunakan sepeda
motor, ia kulakan jangkrik yang menurut penuturannya didatangkan dari Malang,
Jawa Timur. "Di Jogja nggak ada peternakan jangkrik," katanya.
Jangkrik-jangkrik itu ia beli dalam keranjang bambu, seharga Rp
50.000 per keranjang. Setiap hari biasanya ia membeli empat keranjang. Jangkrik
sebanyak itu lantas ia pindahkan ke dalam kotak kayu berukuran 1 x 0,6 meter, yang
di dalamnya terdapat beberapa potong busa bekas pelapis telur atau buah.
Berangkatlah ia berjualan. Ia mulai berjualan pada pukul 07.00
WIB dan terus menanti dengan setia para pembeli hingga tengah hari.
"Biasanya sampai jam dua belas. Kalau tidak, ya jam satu siang,” ungkap
Slamet.
Pendapatan dari berjualan jangkrik tak tentu. "Biasanya saya
bisa menjual hingga Rp 300.000. Kadang, juga kurang," katanya. Seringkali
pula tak semua jangkrik dalam kotak terjual. Jangkrik-jangkrik itu akan dijual
lagi keesokan harinya. "Biar nggak mati. ya dikasih makan. Macam-macam,
ada daun singkong, pakan burung juga bisa," imbuhnya.
Selama 15 tahun rutinitas
berjualan jangkrik ia jalani. Mengaku pendapatannya hanya sedikit, namun bagi
Slamet cukup untuk mememnuhi kebutuhan keluarga. Keempat anaknya pun kini telah
mandiri, sehingga ia tak mempunyai beban. "Saya sudah puas, dengan
berjualan seperti ini," tandasnya.[]
Asyik, ringan, tapi gimana kalau harga kulakannya gak usah ditampilkan saja? Kasian, ntar orang tau harga aslinya bisa nawar seenaknya... hehe. Terus berkarya ya... ^_^
ReplyDelete