June 09, 2011

Belasan Tahun Hidup Andalkan Jangkrik

SIDOAGUNG – Jangan anggap remeh jangkrik. Serangga dengan suara krik, krik, krik, monoton itu bagi sebagian orang bisa menjadi penghibur di kala malam sepi. Penyanyi keroncong Waljinah pun tentu akan setuju jika jangkrik dikatakan sebagai binatang paling berjasa untuk karier menyanyinya. Ingat lagu ‘Jangkrik Genggong’, pasti langsung ingat Waljinah.
Lain lagi bila kita minta pendapat Slamet (43), warga Perengkembang, Balecatur, Gamping, Sleman. Jangkrik, bagi bapak empat anak itu menjadi gantungan hidupnya. Selama 15 tahun ia berjualan jenis serangga itu secara berpindah-pindah menurut hari pasaran pasar tempat ia berjualan.

Ia berjualan bukan dalam partai besar, hanya menjual empat keranjang kecil jangkrik setiap harinya. Ia pun tidak menempati los pasar secara resmi, namun hanya berjualan di pinggir jalan bersama-sama dengan penjual burung, pakan burung, dan lain-lain.
Ditemui siang itu, Slamet kebetulan sedang berjualan di pinggir Jalan Godean, di seputaran Kantor Pegadaian, yang hanya beberapa meter dari pasar Godean. Setiap Pon, menurut penanggalan Jawa, ia akan berjualan di tempat itu. Ketika Pahing ia berada di Pasar Sleman, Wage di pasar Tlogorejo Demakijo, Kliwon di pasar Cebongan, dan saat Legi akan bergeser ke pasar Gamping.
Begitu rutinitas yang dilakoni Slamet selama belasan tahun. Terus berputar di pasar-pasar tersebut sesuai hari pasaran. “Kalau dihitung-hitung, praktis saya berjualan di Godean hanya lima hari sekali. Begitu juga di tempat lain,” tutur pria berkumis itu sambil sesekali melayani pembeli yang datang.
Setiap pon, di seputaran Kantor Pegadaian Godean ramai oleh aktivitas jual-beli burung. Berbagai jenis burung seperti burung gereja, kenari, merpati, jalak, drekuku dijual di sana. Burung-burung itu dimasukkan dalam sangkar dengan berbagai ukuran. Selain penjual burung juga penjual pakan burung seperti kroto, ulat, jangkrik, pisang, dan pakan burung dalam kemasan. Adanya pasar tiban itu tak pelak kerap menambah kemacetan yang biasa terjadi di sekitar pasar Godean.

"Tumbas, jangkrik kalih ewu, Pak," kata seorang pembeli. Slamet pun dengan cekatan meraup jangkrik-jangkrik dalam kotak. Ia memasukkan kumpulan jangkrik dalam kantong plastik, lantas ditimbang. Setelah itu dimasukkan ke dalam kantong kertas yang telah diberi potongan busa. Jangkrik pun berpindah tangan. Jangkrik-jangkrik itu oleh pembeli dijadikan sebagai pakan burung.
Slamet mengaku, telah berjualan jangkrik sejak 1996. Tak mempunyai tempat berjualan tetap, setiap pagi ia berangkat dari rumahnya mulai pukul 05.00 WIB menuju Pasar Burung Dongkelan Yogyakarta. Menggunakan sepeda motor, ia kulakan jangkrik yang menurut penuturannya didatangkan dari Malang, Jawa Timur. "Di Jogja nggak ada peternakan jangkrik," katanya.
Jangkrik-jangkrik itu ia beli dalam keranjang bambu, seharga Rp 50.000 per keranjang. Setiap hari biasanya ia membeli empat keranjang. Jangkrik sebanyak itu lantas ia pindahkan ke dalam kotak kayu berukuran 1 x 0,6 meter, yang di dalamnya terdapat beberapa potong busa bekas pelapis telur atau buah.
Berangkatlah ia berjualan. Ia mulai berjualan pada pukul 07.00 WIB dan terus menanti dengan setia para pembeli hingga tengah hari. "Biasanya sampai jam dua belas. Kalau tidak, ya jam satu siang,” ungkap Slamet.
Pendapatan dari berjualan jangkrik tak tentu. "Biasanya saya bisa menjual hingga Rp 300.000. Kadang, juga kurang," katanya. Seringkali pula tak semua jangkrik dalam kotak terjual. Jangkrik-jangkrik itu akan dijual lagi keesokan harinya. "Biar nggak mati. ya dikasih makan. Macam-macam, ada daun singkong, pakan burung juga bisa," imbuhnya. 


Selama 15 tahun rutinitas berjualan jangkrik ia jalani. Mengaku pendapatannya hanya sedikit, namun bagi Slamet cukup untuk mememnuhi kebutuhan keluarga. Keempat anaknya pun kini telah mandiri, sehingga ia tak mempunyai beban. "Saya sudah puas, dengan berjualan seperti ini," tandasnya.[]

1 comment:

  1. Asyik, ringan, tapi gimana kalau harga kulakannya gak usah ditampilkan saja? Kasian, ntar orang tau harga aslinya bisa nawar seenaknya... hehe. Terus berkarya ya... ^_^

    ReplyDelete