June 14, 2011

Bibir Menor Untuk Menarik Perhatian Siswa



"Aku arep dadi guru sing mulang bocah kaya Atun," begitulah niat Umi Nur Faridah (32) saat ia duduk di kelas III Sekolah Dasar, ia ingin menjadi guru yang mengajar anak seperti Atun (tetangganya yang menderita tunanetra). Keinginan itu membekas hingga Ida –begitu panggilan akrabnya- mengenyam pendidikan tinggi. Pada Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) 1997, ia menuliskan Pendidikan Luar Biasa (PLB) sebagai pilihan pertama dan bahasa Indonesia sebagai pilihan kedua. "Orangtua ingin saya jadi guru bahasa Indonesia,"  ujarnya.

Ternyata Ida lulus UMPTN itu, jadilah ia kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. "Selama satu semester orangtua tidak tahu kalau saya kuliah di PLB, mereka tahunya saya kuliah di jurusan bahasa Indonesia," kenangnya.


Tak lama kemudian rahasia itu tercium, akhirnya orangtua Ida tahu. "Ibu menangis, tapi beliau ingat keinginan saya waktu kelas III.Berarti keinginan saya teguh, maka ibu merelakan," kenangnya. Sedangkan sang ayah menginginkan Ida melanjutkan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN), karena semua saudaranya kuliah di IAIN. Maklum ia tumbuh besar di lingkungan pesantren di Cilacap.


Ia berhasil menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Luar Biasa dengan konsentrasi tunalaras (gangguan yang menunjukkan perilaku menyimpang yang tidak sesuai norma dan aturan yang berlaku) pada 2002. "Saya lama kuliah karena juga aktif di Pramuka, selain itu waktu semester enam saya memutuskan menikah," ujar Ida.


Selesai kuliah ia sempat bekerja di Kelompok Bermain “Kumpul Bocah”, di Sinduadi. "Kebetulan di sana saya menangani anak autis, cuma beberapa bulan," kata Ida. Setelah itu, pada 2005 datang tawaran dari pemerintah desa Sendangadi untuk membentuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Tegar Harapan, iapun menyanggupi. Bersama rekannya Kurnia Astuti, mereka bergerilya mendata anak-anak berkebutuhan khusus di desa Sendangadi. Tercatat ada sembilan anak. "Merekalah murid pertama kami," ungkap Ida.


Selama setahun kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan menumpang di gedung SMP Muhammadiyah Mlati, selanjutnya mereka mengontrak rumah di Mlati Beningan. Akhirnya pada tahun 2007 SLB Tegar Harapan menempati gedung yang didirikan di atas tanah kas desa Sendangadi atas bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM).


Kini Ida mengampu kelas II dan VI SDLB B (tunarungu), ia mengatakan, "Spesialisasi saya memang tunalaras, namun secara umum memang harus siap untuk mengajar anak berkebutuhan khusus lainnya, seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunagrahita."


Mengajar anak tunarungu membutuhkan kesabaran lebih, karena anak tunarungu perhatiannya terpecah, susah berkonstrasi. Padahal anak mesti memerhatikan isyarat tangan, serta gerakan mulut ketika mengucapkan sebuah kata. “Guun-ting,” ucap Ida dengan membuka mulut lebar-lebar seraya memegang gunting. “Makanya saya pakai lipstik yang tebal biar anak-anak memerhatikan,” ucap Ida sambil tertawa.


Ruang kelas tempatnya mengajar adalah sebuah ruang memanjang yang diberi sekat-sekat dari tripleks, untuk memisahkan dari kelas lain. Kira-kira berukuran 1,8 x 1,6 meter. Dua buah meja berukuran 72 x 72 sentimeter untuk siswa dan sebuah meja untuk guru lengkap beserta kursi. Sekat-sekat itu memisahkan ruang kelas tersebut dengan dapur yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan, dan kelas I SDLB B.


Ruangan itu disekat untuk lima kelas. Masing-masing untuk kelas II dan IV SDLB B, kelas I SDLB B, kelas II dan VI D,kelas II SDLB C, serta sebuah perpustakaan. Sehingga apa yang disampaikan guru kelas sebelah terdengar jelas. "Sebenarnya ini tidak layak untuk proses belajar mengajar, tapi kami bersyukur sudah memiliki ruangan," ujar Ida.


Hari itu ia mengajar dua orang murid tunarungu, Rekhawati murid kelas IV, dan Yanuar Aji murid kelas II. Mereka duduk bersebelahan. Untuk mengatasi perbedaan kelas tersebut, Ida menyiasati dengan memberikan mata pelajaran yang sama namun dengan bobot yang berbeda. “Misalnya Matematika, yang kelas IV sampai pembagian dan perkalian, dan kelas II baru sampai penjumlahan dan pengurangan,” jelas Ida.


Ida dan enam guru lainnya masih berstatus guru tidak tetap. Ia mengungkapkan, "Awalnya honor kami hanya Rp 100.000, Honor yang diterima berdasarkan lama kerja." Pengajar pertama di SLB tersebut adalah Ida beserta Kurnia Astuti. “Lantas ada Ibu Atun yang membantu. Awalnya ia digaji Rp 20.000, maka saya dan ibu Tuti menyisihkan masing-masing Rp 5.000 untuk menambah gaji Ibu Atun," ujarnya.


Kini selain honor dari yayasan sebesar Rp 200.000, ia juga mendapat tunjangan dinas pendidikan sebesar Rp 300.000, "Namun itu dirapel, biasanya pertengahan tahun. Makanya kalau pertengahan tahun guru-guru di sini sumringah," jelas Ida sambil tertawa.


Perlahan keadaan yayasan dan sekolah membaik, “Kini setidaknya kami bisa memakai baju seragam seperti guru-guru lain,” ujar Ida. Ia mengharapkan, "Pemerintah lebih serius memerhatikan nasib saya dan teman-teman, sesame guru tidak tetap. Salah satunya kami berharap diangkat menjadi PNS."


Meski begitu, Ida dan sesama rekan sejawatnya tetap semangat mengajar, "Meski uang yang saya terima tidak seberapa tapi buat saya itu berkah," Mengajar anak berkebutuhan khusus sangat berbeda dengan mengajar anak-anak normal. "Ketika anak yang saya ajar dapat mengucapkan satu kata saja, Masyaallah saya sangat senang. Anak tunarungu kan susah berbicara. Meski yang mereka ucapkan tidak begitu jelas, tapi saya senang." ujar Ida.


Duka yang dialami Ida saat mengajar biasanya saat anak didiknya merajuk, "Kalau anak-anak ini marah wah, susah banget!" keluh Ida. Seperti yang ia alami dengan salah satu muridnya, Yanuar Aji. Pagi hari itu Aji merajuk dan marah. Ida menceritakan untuk menenangkan Aji yang marah membutuhkan bantuan guru-guru yang lain. “Sampai hampir satu jam kami berusaha menenangkan Aji,” imbuhnya. Namun baginya duka tersebut menjadi suka saat ia berkumpul dan bercerita dengan rekan-rekannya. Ia mengungkapkan, "Kami saling cerita pengalaman, jadinya berubah senang."


Sudah tujuh tahun Ida mendedikasikan hidupnya untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus, namun ia masih merasa belum maksimal mendidik murid-muridnya. Meski begitu para orangtua dan murid menganggap Ida telah memberikan yang terbaik. "Saya kerap bertemu dengan orangtua dari murid yang dulu saya ajar, mereka mengucapkan terima kasih kepada saya," ungkapnya.


Hal-hal semacam itulah yang memotivasinya untuk tetap mengajar dengan segala keterbatasan. Sebagai contoh, meski fasilitas alat peraga minim, Ida pun berinisiatif mem-fotocopy gambar-gambar isyarat tangan, lantas ditempelkan di dinding. Ia menggunakannya untuk mengajari anak didiknya untuk berkomunikasi via isyarat tangan.


Dalam mengajar Ida berusaha membangun komunikasi dengan orangtua murid. Tak semua orangtua murid mau mengerti. "Saya berusaha menyampaikan informasi perkembangan anak ke orangtua, agar proses perkembangan dan belajar tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah," jelas Ida. Ia mengungkapkan beberapa orangtua mudah diajak kerjasama, namun yang lain susah, "Saya sudah berusaha mendisiplinkan anak di sekolah, namun kalau tidak didukung oleh keluarga juga tidak maksimal. Itu salah satu tantangannya, Mbak,” ucap Ida.


Umi Nur Faridah, adalah salah satu sosok dari sekian banyak guru SLB yang mengabdi untuk mendidik anak-anak yang kerap dipinggirkan karena dianggap cacat oleh masyarakat umum. Padahal anak-anak ini mempunyai hak sama untuk belajar bersosialisasi dan berkarya di masyarakat. Sudah semestinya nasib para pendidik ini lebih diperhatikan oleh pemerintah.[]

No comments:

Post a Comment