August 16, 2008

Suatu Sore di Selatan Blandongan

Senin pagi (11/8) aku mendapat sms dari Dian –teman di organisasi yang pernah kuikuti− tentang kumpul-kumpul Kohati.
“mis sibuk nggak? Sore nanti mbak Endah ngajak kumpul pengurus dan demisioner kohati ngomongin hasil munas dan kongres di selatan blandongan.” Begitu isi pesan singkat yang dikirimkan kepadaku.

Sore harinya, aku mampir Himmah. Mau shalat Ashar. Dan nonton sinetron korea −yang bercerita tentang kedai kopi− selesai menontonnya lalu pergi ke KK book rental. Aku belum memutuskan untuk pergi ke pertemuan itu. Untuk memastikan aku kirim sms ke Dian tanya apa di pertemuan itu aku juga diundang, dia balas, “Iya, mbak Endah nggak tahu nomor barumu, Mis. Makanya dia nitip pesan ke aku.”

Saat itu aku masih di rental buku, dan sebentar lagi maghrib, makanya kuputuskan untuk berangkat ke pertemuan itu selepas maghrib, aku shalat maghrib dulu di himmah. Setelah itu aku ke pertemuan itu. Tempat pertemuannya di sebuah café gubuk dekat blandongan bernama “blueberry café”, di sana selain Dian ada mbak Endah, Eka Ferli, Mardiyah. Tiga orang tersebut terakhir kukenal di kepengurusan KOHATI cabang Yogyakarta. Dua tahun lalu aku meninggalkan organisasi itu. Lama aku tak bertemu mereka. Kamipun berbasa-basi. ”Yang lain, lagi shalat,” ujar mbak Endah saat aku tanya kemana teman-teman KOHATI yang lain. Beberapa saat kemudian datang Uus.

Kemudian perbincangan yang sempat dipending shalat itu dilanjutkan. Uus, ketua umum KOHATI cabang menjelaskan dinamika yang terjadi selama di kongres HMI XXVI di Palembang akhir Juli kemarin. Permasalahan politik. Bla…bla…bla
Panjang lebar dia menjelaskan. Saat itu aku hanya berpikir, “Ah, hal seperti ini tak pernah lagi aku dengar. Politik, membuat orang tendensius. Dulu aku akrab dengan hal-hal seperti ini.”

Belajar politik di HMI, berpolitik di HMI. Dari dulu aku berpikir yang penting orang harus tahu politik, agar tidak mudah dipolitisir. Itu sebabnya perpolitikan tidak terlalu kudalami.

Selagi mendengarkan obrolan teman-temanku tentang kongres, aku iseng sms Pam2 dan bercerita bahwa aku bernostalgia dengan HMI. Setelah sekian lama tak aku gubris. Betapa telinga ini asing mendengar kata-kata NDP, peta politik, dll.

Mereka adalah orang-orang yang kukenal karena HMI tapi juga kutinggalkan. Jika mereka memilih bertahan, sementara aku tidak. Itu bukanlah takdir, bukan takdirku meninggalkan HMI. Karena tak ada hal yang disebut takdir, yang ada hanya pilihan yang berbeda. Beberapa pilihan mudah, yang lain tidak.

Ada sedikit penyesalan dalam kalimat-kalimat ini. Keputusanku pergi dari HMI saat itu bukanlah keputusan yang mudah tapi harus kuakui keputusan itu jauh lebih mudah ketimbang bertahan

Pertemuan malam itu juga membicarakan tentang kegiatan Latihan Khusus Kohati (LKK), Uus minta bantuanku untuk menjadi MOT (Master of Traineer) aku menyanggupinya karena itu adalah salah satu caraku ‘menebus dosa’. Pukul 20.30 pertemuan itu selesai, aku lalu pulang ke kost tapi pikiranku menjalar kemana-mana, serasa file-file lama tentang HMI di otakku dibongkar. Membuatku masygul.

No comments:

Post a Comment