September 21, 2008

Jubah Kebesaran

Jumat pagi (19/9) aku punya urusan. Daftar wisuda. Ini adalah hari terakhir pendaftaran. Sekitar jam 10 pagi pergi ke kampus, motor aku parkir di depan rektorat. Langsung ke loket bagian akademik di rektorat.
”Bu, mau daftar wisuda,” kataku.
”Sudah dapat formulirnya?” tanya Ibu di loket itu.
”Belum.” jawabku.
”Ini, diisi dulu,” katanya sambil menyodorkan formulir.

Aku lalu mencari tempat agar bisa mengisi formulir. Nah, saat aku mengisi formulir, tali sandal sebelah kanan putus. Padahal aku baru membelinya kemarin. Selesai mengisi dan melampirkan berbagai persyaratan, kuberikan pada Ibu yang tadi.
”Ini, bukti toga. Sekarang ambil toga di bawah,” katanya.

Karena tali sandalku lepas, jadinya kaki kanan aku seret. Pergi ke bagian peminjaman toga. Sampai di sana aku lihat beberapa mahasiswa sedang mencoba jubah wisuda. Ada bapak yang mengurus peminjaman toga, sambil menyerahkan bukti peminjaman toga, aku tanya, ”Apa ada yang cukup untuk saya, Pak?” karena ukuran tubuhku yang kecil.
”Semua sudah digantung di lemari, dicoba aja, Mbak,” jawab bapak itu.
Nah, secara kasat mata pun kelihatan bahwa sebagian besar jubah itu ukurannya jauh lebih besar ketimbang tubuhku. Sewaktu coba jubah-jubah itu aku mirip orang-orangan sawah.
”Waduh, jangan-jangan aku nggak jadi ikut wisuda gara-gara jubahnya kegedean. Nggak ada yang pas,” batinku.
Dan bapak tadi sama sekali tidak membantuku.

Lalu datang seorang bapak –sepertinya dia juga mengurus peminjaman toga. Kita sebut dia Bapak B, sedangkan bapak yang tidak membantuku tadi Bapak A.
”Wah, kesel. Lantai papat ning lantai papat,” ujar Bapak B ke Bapak A.
”Yo, kerasa,” timpal Bapak A.
Seketika Bapak B menyalakan kipas angin. Dia ada di sampingku.
Tiba-tiba dia cerita, ”Capek, Mbak. Habis bantu angkut-angkut pindahannya DPPM. Dari lantai 4 masjid ke lantai 4 D3.”
”Oh, DPPM pindah ke D3 ya, Pak?” tanyaku.
”Iya,” jawabnya.
”Mau wisuda ya Mbak?” tanya Bapak B.
”Iya, Pak. Tapi pakaiannya besar-besar,” jawabku.
”Yah, namanya juga pakaian kebesaran.” candanya.
”Nah ini benar-benar kebesaran buat saya,” ujarku.
”Saya bantu carikan, tunggu ya,” kata Bapak B.
Iseng aku tanya, ”Pak, bedanya jubah S1 dan S2 apa?”
”Kalo S2 ada benang warna emas, kainnya beludru,” jawabnya.
”Oh.”

Akhirnya Bapak B menemukan jubah ukuran kecil.
”Coba di-pake Mbak” katanya
Lalu aku coba dan pas!

”Mbak ikut mapala atau LEM? Saya kok sering liat mbak,” tanyanya.
”Saya ikut Himmah, Pak,” jawabku.

Sewaktu mau kulepas jubah itu, dia melarang, ”Jangan dilepas dulu, Sekarang coba cari toganya.”
Aku coba cari toga yang pas, dan akhirnya dapat. Nah, lengkap sudah. Jubah dan toga sudah aku dapatkan. Jubah dan toga itu lalu kuserahkan ke Bapak A untuk dibungkus.
Lalu ada cowok –juga pinjam jubah dan toga- menyapaku.
”Temennya Dedi ya?” tanya cowok itu.
”Mas Dedi? Iya,” jawabku.
”Sudah tahu kabar dia? tanyanya.
”Dia sudah punya anak, kan?” tebakku.
”Iya, kapan dapat kabarnya?”
”Aku tahunya waktu masih hamil, sekitar dua bulan lalu.” jelasku.
”Sekarang sudah lahir, baru kemarin,” jawabnya.
”Oh, syukurlah,”
”Duluan ya,” ujarnya.
”Iya,”

Setelah ambil bungkusan jubah akupun pulang, sambil bilang ke Bapak B, ”terima kasih, Pak.”
”Sama-sama.”

Masih dengan jalanku yang kuseret karena tali sandal lepas. Aku menuju parkiran, mau pulang. Naik motor dengan kaki kanan nyeker.
”Paling nggak ada yang memperhatikan sampai kaki, lagian aku pake celana panjang” batinku.

No comments:

Post a Comment