JUMAT siang, Annisa menukarkan uang seribu rupiah dengan mata uang market day kepada wali kelasnya di kelas. Uang itu akan digunakan untuk membeli berbagai macam jajanan. Hari itu ia tak cuma akan membeli, namun juga akan berjualan.
Jam beranjak ke pukul 10.30 waktunya market day dimulai. Anak-anak dari kelas I-VI termasuk Annisa berbondong-bondong menuju pendopo tempat market day diadakan. Mereka yang akan berjualan sibuk menyusun barang dagangan masing-masing di meja-meja kecil yang telah disediakan.
Annisa membawa kardus karton yang di dalamnya berisi tahu kentucky buatan ibunya sebanyak 60 buah. Ia diminta oleh ibunya untuk menjualnya dengan harga 400 rupiah per biji.
Suasana di pendopo pun jadi riuh rendah layaknya pasar. Anak-anak menjadi pembeli dan penjual. Jajanan yang dijual beragam, seperti aneka snack, mie bihun, es lilin, agar-agar, siomay, rujak, tahu kentucky, nugget, dan banyak lagi lainnya.
Market day adalah salah satu kegiatan dimana para murid menjual penganan untuk jajan teman-teman mereka sendiri, dan transaksi dilakukan menggunakan uang market day yang bisa ditukar dengan uang rupiah asli. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Jumat mulai pukul 10.30-11.30.
Seorang ustad—sebutan untuk guru laki-laki—tertarik membeli tahu kentucky Annisa. Diberikannya uang market day sebesar 2.000 rupiah. Annisa kebingungan menghitung berapa jumlah tahu yang harus dibungkusnya.
Ustadzah—sebutan untuk guru perempuan—Sri Siyamin yang berada di dekatnya melihat kebingungan itu. ”Satu buah tahu dijual berapa?” tanya Sri Siyamin.
”Empat ratus rupiah,” jawab Annisa.
”Berarti kalau uang ustadzah ada 2000, dapat tahu berapa?” Annisa merentangkan kesepuluh jari tangan dan jari kakinya.
”Lima, Ustadzah,” seru Annisa beberapa saat kemudian. Dimasukkannya lima buah tahu ke dalam plastik, lalu diberikannya kepada ustad yang menunggu sambil tersenyum.
SEKOLAH dasar tempat Annisa belajar itu menyebut dirinya sekolah alam. Namanya Nurul Islam. Berjarak 400 meter dari Jalan Ringroad Barat, sekolah ini terletak di dusun Pundung, Nogotirto, Gamping, Sleman, Jogjakarta. Kontur halamannya tidak rata sehingga jalan menuju ke sana naik turun.
Tiap ruang kelas berukuran 7x5 meter. Tembok hanya berupa susunan batu bata dan semen tanpa dempul setinggi satu meter, sengaja dirancang terbuka. Tidak ada kursi di tiap ruang kelas. Meja-meja berukuran 60x40 cm setinggi 35 cm menjadi tempat murid-murid menulis.
Hembusan kesejukan udara saat angin berhembus sepoi-sepoi menemani anak-anak belajar di sebuah kelas pada suatu siang. Ada sekitar 20 murid di kelas itu. Dua orang ustadzah membimbing mereka untuk belajar. Satu menerangkan di depan kelas, satunya lagi memantau anak satu per satu. Bila ada yang tidak mengerti, maka ustad pendamping tadi akan membantu anak untuk lebih memahami. Sang ustadzah sesekali mengubah susunan ruang kelas untuk kegiatan berbeda.
Sekolah ini tampaknya benar-benar ingin menjadi sekolah alternatif. Kegiatan serta proses pembelajarannya merupakan antitesis dari sistem yang biasa diterapkan di sekolah dasar yang konvensional.
Murid-murid sekolah alam dibiasakan untuk berinteraksi dan mengeksplorasi alam sekitarnya. Peran guru sangat berbeda dari kebanyakan sekolah, dimana guru adalah sosok yang maha tahu dan murid adalah gelas kosong yang siap untuk diisi air. Disini, guru atau biasa disebut dengan ustad (laki-laki) dan ustadzah (perempuan) hanya bertindak sebagai fasilitator.
"Kebetulan Farha ketika TK saya sekolahkan di TK Nurul Islam, jadi sudah akrab dengan konsep sekolah alam,” tutur Hasanah, orang tua dari Farha, murid kelas IA.
”Masa anak-anak merupakan usia bermain, di sini kegiatan tidak melulu dikelas, jadi anak-anak merasa enjoy untuk belajar, malah mereka tidak merasa bahwa aktivitas mereka adalah belajar padahal sesungguhnya merupakan proses belajar,” tambahnya.
Howard Gardner, dalam bukunya Multiple Intellegences, mengatakan bahwa setiap orang memiliki kecerdasan majemuk meliputi kecerdasan spasial-visual, linguistik-verbal, interpersonal, musikal-ritmik, naturalis, kinestetik, serta logis matematis. Dari tujuh macam kecerdasan tersebut, hanya beberapa yang menonjol, dan itu berbeda pada setiap orang.
Kecerdasan bukan sesuatu yang dapat dilihat atau dihitung, melainkan potensi sel otak aktif atau non aktif tergantung pada pengalaman hidup sehari-hari baik di rumah, sekolah atau tempat lain.
Karena setiap anak memiliki potensi berbeda, maka seharusnya proses pengajarannya juga berbeda. Dalam ilmu psikologi dikenal prinsip individual differences, pada dasarnya setiap orang memiliki keunikan dan kekhasan yang menjadi ciri.
Sekolah dasar konvensional pada umumnya hanya menitik beratkan pada aspek kognitif, yaitu kemampuan penalaran otak. Tak jarang murid yang tidak memiliki keunggulan kognitif, dianggap anak bodoh. Akibatnya ia menjadi minder. Sekolah tidak mampu mengakomodir kebutuhan murid, bahkan bisa membunuh potensi murid yang beragam dengan kurikulum yang sama.
Padahal dalam perkembangan belajar manusia, selain kognitif ada dua aspek lagi yaitu afektif dan psikomotorik. Afektif adalah kemampuan dalam bersikap dan bertingkah laku, sedangkan psikomotorik terkait dengan kemampuan yang terkait dengan gerakan tubuh.
Peranan sekolah yang sangat dibutuhkan adalah melihat potensi dan membantu dan mengembangkan potensi anak sehingga dia bisa mengaktualisasikannya. Sejatinya tidak ada murid yang bodoh, yang ada adalah murid yang lebih unggul di bidang yang berbeda.
Keunikan dari model pembelajaran seperti di sekolah alam adalah memasukkan dua aspek selain kognitif sebagai sasaran pembelajaran bagi anak-anak. Misalnya lewat kegiatan outbound yang dilakukan tiap minggu, anak-anak dilatih aspek afektif dan psikomotorik. Mereka dilatih jiwa kepemimpinannya dan juga kemampuan bekerjasama dalam tim.
Outbound menjadi salah satu kegiatan yang ditunggu dan disukai oleh murid-murid sekolah alam. Farroes misalnya, murid kelas IA ini mengaku paling suka kegiatan outbound.
”Aku paling suka outbound, soalnya aku bisa maen, terus manjat pake tali,” katanya
Menembus halang rintang, rafting, meluncur, adalah salah satu variasi kegiatan dalam outbound. Tentunya kegiatan tersebut masih mendapat pengawasan dari para pengajar.
”Lewat outbound kami ingin mengubah sesuatu sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Seringkali kita merasa takut, tapi setelah kita coba ternyata kita bisa,” jelas Jamaluddin, Kepala Sekolah.
Dia menambahkan, ”Sekarang ini kan banyak orang pintar, tapi nggak bisa bekerjasama, makanya anak-anak kami latih bekerjasama dalam tim.”
Kegiatan lain yang dilakukan adalah market day, seperti yang dialami oleh Annisa. Ia jadi paham matematika dalam berhitung. Pelajaran berhitung tidak hanya didapatkan di kelas tapi juga bisa diterapkan ketika menjual tahu kentucky.
Rupanya sekolah bermaksud melatih jiwa kewirausahaan sejak dini kepada anak-anak. ”Mengambil contoh nabi Muhammad yang pada usia 12 tahun telah menjadi pedagang lintas negara karena memiliki kemandirian dan jiwa kewirausahaan,” papar Jamaluddin.
Enam anak laki-laki sedang bermain ayunan yang tampak seperti tangga kayu besar. Empat buah batang bambu sepanjang tiga meter disusun secara horizontal dengan jarak bervariasi sampai satu meter yang saling diikatkan pada tali. Tiga orang anak naik di bambu baris ketiga dan berpegangan pada bambu kedua, sementara tiga anak lainnya mendorong ayunan itu dari depan.
”Hei, ayo dorong yang kuat!” seru salah seorang anak kepada temannya.
”Ya,” jawab temannya
Ayunan itu pun berayun dengan kuat. Gelak tawa mewarnai suasana siang itu. Ketika suara adzan menggema mereka bergegas mengambil air wudhu. Beberapa saat kemudian anak-anak itu sudah menjadi bagian dari jamaah sholat Dhuhur.
Munculnya sekolah dasar yang menggunakan konsep alam dinilai sebagai hal yang positif oleh Rochmat Wahab, dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jogjakarta.
”Ya bagus, kondisi dibuat sealamiah mungkin, seperti bagaimana berinteraksi, jadi anak hidup dalam realitas, tidak hanya angka-angka, langsung praktek,” komentar Rochmat Wahab dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jogjakarta.
Namun sesempurna apapun suatu konsep yang dibuat manusia, pasti ada kekurangan. Seperti konsep market day misalnya, Rochmat menanggapi, ”Struktur keilmuan harus dijaga, agar tidak lepas. Hal seperti itu (belajar mengunakan uang-red) kan nggak usah sekolah juga bisa dipelajari.”
”Persoalannya, kalau terlalu melepaskan anak asal belajar tanpa terstruktur juga berbahaya. Penataaan keilmuan harus sistematis, karena perkembangan wawasan harus sistematis. Harus ada cognitive scheme, karena itu penting. Saya takut anak hanya hapal, tapi logika tidak jalan,” tambahnya.
Menurutnya, inti sekolah adalah melakukan penataan penalaran atau cognitive scheme. ”Ini yang tidak bisa diabaikan. Mulai dari berpikir konkret, berpikir abstrak, sampai berpikir logis dan sebagainya itu ada tingkatannya,” tambahnya.
”Jangan asal anak itu hidup dengan lingkungan. Fungsional tapi ilmunya tidak terstruktur. Yang saya pesankan hanya bagaimana tetap mem-frame ilmunya sesuai dengan disiplin yang harus dia kuasai,” pesannya.
Rochmat Wahab memandang sekolah alam berkeinginan menjadi alternatif lain dari pendidikan. Pendidikan sekarang tidak harus ke sekolah, namun bisa juga menggunakan non formal education. ”Dimana saja silakan belajar, tapi nanti harus ikut ujian standar,” lanjutnya.
Polemik pro kontra ujian nasional sendiri hingga saat ini masih hangat diperdebatkan masyarakat sebab dinilai terlalu sempit dalam menilai kemampuan seseorang, karena hanya menyertakan tiga mata pelajaran—matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris—sebagai mata pelajaran yang diujikan.
Mengenai fungsi mengkotak-kotakkan ilmu dalam berbagai mata pelajaran, Rochmat berpendapat, ”Mata pelajaran sebagai alat, bukan tujuan, untuk membangun cognitive scheme, membangun level of thinking. Ini esensi yang harus menjadi pegangan. Makanya ada high level of thinking, ada yang sifatnya memori.”
Kelemahan sekolah konvensional selama ini menurutnya hanya menekankan pada menghapal saja, lupa mengajarkan maksudnya bahwa agar di lapangan hapalan dapat langsung diterapkan dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.
”Agak ironis, anak-anak banyak hapal tapi tidak bisa hidup dengan masyarakat, itu kan kesalahan pengajar dan proses pendidikan,” kritiknya.
MENJAWAB kekhawatiran tersebut, dalam kegiatan belajar-mengajar, sekolah ini menggunakan dua kurikulum, yaitu dari Departemen Pendidikan Nasional sebagai pedomannya, dan kurikulum sekolah alam sendiri.
Dengan adanya penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sejak pertengahan 2006, menggantikan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), tiap sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Pemerintah hanya menetapkan standar minimal kurikulum yang harus dipenuhi, selebihnya bergantung pada tiap sekolah.
Rina Widyaningrum, salah satu pengajar di sekolah alam mengungkapkan, ”Sekarang cukup terbantu dengan adanya KTSP, jadi kita lebih bebas mengembangkan. Kalo kurikulum yang dari Diknas cuma ada standar kompetensi dan kompetensi dasar.”
Kompetensi dasar itulah yang menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan materi pembelajaran. Kompetensi dasar ini juga menjadi cerminan kualitas lulusan.
Metode belajar yang digunakan di sekolah ini bervariasi karena anak-anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Pada intinya, guru berusaha untuk dapat menstimulus semua indera anak selama belajar, sehingga menghasilkan pola belajar yang terintegrasi, dan pemahaman anak menjadi utuh.
Salah satunya adalah metode pembelajaran tematik learning. Dengan metode ini, satu pokok bahasan tertentu dijelaskan dari berbagai disiplin ilmu. Misalnya tema ”air” menjadi materi yang dibahas ketika mata pelajaran matematika, KTK, IPA, dan IPS. Penggunaan metode tersebut membuahkan hasil yang efektif dan efisien. Pemahaman yang didapatkan anak-anak menjadi utuh, serta pengajar dapat menyelesaikan beragam bahasan dengan tepat waktu.
Tak hanya metode itu yang digunakan. Metode learning by doing membuat murid belajar tidak hanya melalui teori, namun juga dipraktekkan. Seperti pengetahuan bercocok tanam misalnya, selain mendapat teori mereka juga mempraktekkannya dengan berkebun. Sepetak tanah di samping pendopo pun digarap dan ditanami tanaman kacang.
Mengajar dengan metode seperti itu menuntut pengajar untuk lebih kreatif. Sehingga untuk dapat meningkatkan kualitas pengajar, yayasan memberikan sejumlah pelatihan bagi pengajar di sekolah alam.
”Karena tidak semua pengajar memiliki kemampuan yang sama dalam penerapan konsep Sekolah Alam ini,” jelas Zidni Immawan, ketua Yayasan Nurul Islam yang menaungi sekolah alam ini.
SEBAGIAN dari kita pada umumnya melewatkan sebagian besar kehidupan di sekolah. Sekolah pada umumnya berupa bangunan dengan kelas-kelas berikut meja dan kursi yang tertata berjajar-jajar serta papan tulis di depannya. Saking familier kata sekolah, sampai-sampai ada ungkapan, setiap tempat adalah sekolah dan semua orang adalah guru.
Asal kata sekolah berasal dari bahasa latin schola yang secara harfiah berarti waktu luang. Dalam perkembangannya, bersekolah tidak lagi mengisi waktu luang, tapi sudah menjadi kewajiban. Negara Indonesia sendiri merasa perlu mewajibkan penduduknya untuk bersekolah selama sembilan tahun karena ternyata kebutuhan sekolah bagi sebagian penduduk di Indonesia masih terkalahkan kebutuhan primer yang belum terpenuhi. Sayangnya, pewajiban ini tidak disertai program pendukung seperti sekolah gratis misalnya.
Bagi yang mampu mengenyam bangku sekolah, akan mengalami pola pengajaran yang terus berkembang, seiring perkembangan ilmu psikologi dan pendidikan.
Pengajaran berpola teacher centris dimana guru sebagai sosok yang maha tahu, dengan metode ceramah dan terkesan menggurui, sedangkan murid dianggap sebagai obyek yang harus diberi, bukan mengusahakan sendiri adalah pola pengajaran yang selama ini terjadi.
Titik berat pemberian materi di sekolah lebih pada aspek kognitif semata. Pembentukan kepribadian dan kedewasan murid tidak maksimal, karena hanya sekedar proses transfer of knowledge.
Model pembelajaran semacam itu menyebabkan banyak anak yang merasakan sekolah sebagai beban. Pendidikan sebagai sebuah proses pembelajaran semestinya bertujuan untuk menggali potensi dan membentuk karakter anak.
Dunia anak adalah dunia bermain. Dalam kegiatan bermain sebenarnya anak menemukan proses pembelajaran yang sebenarnya, karena semua aspek kecerdasan anak terstimulus untuk berkembang. Fungsi bermain bagi anak adalah inti belajar, melalui bermain anak belajar memahami bagaimana kerja dari segala hal yang ditangkap oleh inderanya dan membangun pemahaman dan pengetahuan.
Hal inilah yang seringkali tidak disadari oleh orang tua bahwa bagi anak-anak, bermain adalah belajar. Diungkapkan oleh Jamaluddin bahwa ada pemahaman keliru dari orang tua bahwa anak dikatakan belajar hanya apabila mereka membaca dan menulis di meja belajar.
”Kami ingin mengubah pemahaman seperti itu, bahwa apa saja yang ada kami maknai sebagai kegiatan belajar, dan tidak hanya murid yang belajar, gurunya pun ikut belajar terutamanya di sekolah alam,” tegasnya.
Ruh dari konsep alam yang ditekankan di sekolah alam ini adalah alam, yang dimaksud dengan universe. Segala yang ada di lingkungan tempat sekolah alam berdiri merupakan media pembelajaran.
Sekolah alam adalah sekolah dengan konsep pendidikan berbasis alam semesta. Mengambil filosofi dari Qur’an Surat Al Ghasiyah ayat 17 tentang anjuran untuk memperhatikan alam semesta, manusia sebagai ciptaan Tuhan diserahi tanggung jawab menjadi wakil Tuhan di bumi, bertanggung jawab dalam memelihara dan memanfaatkan alam dengan bijak.
”Makanya sekolah alam tidak harus banyak pohon atau ada sungai, intinya adalah bagaimana kita belajar dari alam semesta dan mengambil pelajaran,” tambahnya.
BILA Annisa memilih untuk berjualan tahu di kegiatan market day, lain halnya dengan Ela, murid kelas VI. Dia lebih memilih untuk membeli ketimbang menjual.
”Soalnya kalo jualan aku takut nggak laku, Mbak,” jawabnya polos.
Begitu market day dimulai, Ela bergabung dengan kerumunan anak-anak yang membeli berbagai jajanan. Ceker, mie, es lilin, pempek, dia nikmati sambil bersenda gurau bersama teman-temannya.
Anak-anak hanya dapat membelanjakan uang sebesar seribu rupiah. Itupun harus ditukar terlebih dahulu dengan uang market day. Nominal uang market day dari mulai 100, 200, 500, hingga 1000.
Sri Siyamin, Direktur market day menjelaskan, "Tujuannya supaya jajan anak-anak terkendali. Selama market day berlangsung, si penjual tidak boleh menerima uang rupiah kecuali dari ustad atau ustadzah.”
Dia menghitung uang market day yang akan ditukarkan dengan uang rupiah. Jumlahnya disesuaikan dengan jumlah murid setiap kelas.
”Misalnya, kelas IA jumlah muridnya ada 18 anak, jadi saya menghitung uang sejumlah 18.000 lalu saya serahkan wali kelasnya,” jelasnya.
Keramaian pun terjadi di kelas-kelas sebelum market day. Anak-anak berebut untuk dapat segera menukarkan uang rupiah mereka. Di penghujung kegiatan, para penjual cilik itu kemudian menukarkan uang market day hasil penjualannya dengan uang rupiah.
Satu hari yang mengantarkan mereka bersiap-siap menjadi penjual sesungguhnya di kehidupan nyata.
mis, kok gak update?
ReplyDelete