November 08, 2008

Terjebak Hujan Badai


Siang itu setelah pinjam buku Harry Potter dan Kembang Genjer-genjer di UPT perpustakaan Kota di belakang Gramedia, aku langsung pergi ke rental komputer di daerah Selokan Mataram belakang Artha, ngeprint lamaran volunteer di PKPU. Saat aku melaju ke sana memang langit terlihat gelap. Sampai di rental komputer, nyolokin flashdisk, mau ngeprint dan… mati listrik. Di luar, hujan mulai turun, tetesannya besar-besar. Melihat cuaca yang seperti itu, aku bingung, pulang ke kost atau ke himmah. Aku putuskan ke Himmah, karena pertimbangan lebih dekat. Dan kupacu motor ke jalur yang biasa kulalui. Gama book store, belok kanan, ke arah pusat studi serangga –itu yang ada rusa-rusa− lalu ke arah fakultas filsafat, belok kanan ke arah masjid ugm. Belok kiri lalu belok kanan sampailah di sekitar bunderan UGM. Kira-kira ilustrasinya seperti diatas :

Aku lihat angin mulai membadai ditambah hujan deras, membuat jarak pandang memendek, sangat sulit buatku untuk maju, akhirnya terjebak. Posisi motorku di arah barat sementara angin kencang bertiup dari arah selatan. Akhirnya aku mampu mengarahkan posisi motorku ke arah utara. Tak kuat menahan terjangan angin, aku terjatuh dari motor, dan berlindung di balik motor, tetap menunduk. Beberapa kali kucoba mendongak, melihat keadaan sekitar. Di sisi utara aku melihat pusaran angin, di barat pepohonan tumbang, menghantam lapak-lapak pedagang kaki lima –seperti tempura, gado-gado- yang biasa mangkal di sana. Seorang laki-laki berpegangan erat di tiang lampu, bertahan diantara amukan hujan dan angin. Sebuah triplek tampak mengangkasa, terkena tiupan angin. Syukurlah jauh dari tempatku bersungkur. Begitupun di sisi timur, pepohonan tumbang mengenai kabel-kabel telepon. Beberapa orang yang terjebak di sekitarku sibuk mencari cara keluar atau setidaknya bertahan di tengah badai itu. Tak ada yang bisa aku lakukan, terlintas di pikiranku, ”Seperti adegan di film Twister”. Hanya kata subhanallah yang mampu ucapkan. Sore itu Tuhan menunjukkan kekuasaannya, dan ketidak berdayaanku. Tak tahu berapa lama aku berada di tengah amukan hujan badai itu. hingga ada dua orang laki-laki menepuk punggungku, salah satunya dan bilang, ”Mbak, motornya tinggal aja, ikut saya masuk ke dalam.” Dan seorang lainnya menuntun motorku. Laki-laki ini membawaku masuk ke sebuah gedung. Hingga aku bisa berlindung di dalam, dengan tertatih-tatih, berlari menghadang badai, karena tangan kiriku memegang binder, sebelah sandalku tak ketahuan rimbanya akhirnya bisa masuk ke dalam gedung itu. Dari dalam gedung itu aku lihat kerusakan yang terjadi, angin dan hujan yang masih saja menari liar di luar. Seorang perempuan menyapaku, ”Mbaknya yang di luar tadi? istirahat aja.” Darinya aku tahu nama gedung tempatku berlindung. PSKK (Pusat Studi Kebijakan Kependudukan) dan aku berkenalan dengan dia, Yuni namanya. Seorang lagi bernama Ester. Mereka bertanya darimana aku tadi sebelumnya, lalu kuceritakan aku dari arah lembah. Mau ke UII cik di tiro. Kami berbincang sambil melihat tarian liar angin dan hujan.

Dalam hati kuucap syukur, meskipun aku terjebak di tengah badai itu, setidaknya aku tak terkena pohon tumbang, karena jalan yang sebelumnya kulewati sudah tertutup dengan pepohonan tumbang. Aku merenung mengapa aku tadi memilih balik ke Himmah alih-alih pulang ke kost. ”Karena pertimbangan jarak,” batinku memberi alasan. Dan, apa rencana Tuhan menuntunku hingga membuatku mengalami kejadian ini? ”Menunjukkan kekuasaanNya, membuatmu takut karena bayangan kematian mengintip lebih dekat,” jawab batinku. Kali ini akalku diam. Tak banyak mendominasi seperti biasanya.
Seringkah menonton film? Tentu ada adegan di mana tokoh utama baru saja terhindar dari maut, yang membuatnya sadar tentang orang-orang yang dia kasihi. Hingga hal pertama yang dilakukannya adalah menghubungi orang terkasihnya, atau memeluknya segera mungkin. Kira-kira seperti itu yang kurasakan, bukan ingin mendramatisir. Tiga yang kupikirkan, keluargaku, Pampam, dan Ambar. Kuurungkan menghubungi keluarga, lalu hanya kuhubungi Pampam. Bercerita tentang apa yang baru saja kualami. Meskipun nggak sampai selesai,cuma kututup dengan sms berbunyi, ”Aku di PSKK UGM, tapi gpp.” Lalu HPku matikan karena lembab, takut merusakkan HP itu. Cukup lama aku berada di gedung itu, sesekali dadaku nyeri. Tapi aku bisa menahannya. Dan minta segelas air hangat untuk menghangatkan badanku yang mengigil. Dari percakapan orang-orang yang ada di sana sepertinya hujan badai itu hanya terjadi di daerah UGM. Lain itu tidak. Seperti puting beliung di seputaran bioskop Mataram setahun lalu. Yuni menyarankanku untuk pulang saja. ”Iya, sepertinya memang mesti begitu. Bajuku basah, takutnya nanti masuk angin,” ujarku mengiyakan sarannya. Hujan akhirnya mereda, pun angin, langit tak lagi gelap. Laki-laki yang tadi menolongku memintaku ikut dia untuk cari motorku. Aku pun keluar dengan telanjang kaki. Melihat berbegai kerusakan yang terjadi. Pepohonan tumbang, lapak-lapak PKL rusak, atap yang kehilangan sebagian gentingnya. Beberapa atap bahkan roboh, ada motor yang rusak.

Akhirnya aku menemukan motorku terparkir di depan gedung PSKK. Sewaktu keluar aku lewat samping, jadi nggak melihat motorku. Aku coba men-stater motor, ternyata bisa. Biasanya kalo hujan motorku sering berulah.
Karena badai sudah reda, dan bajuku yang basah, kuputuskan langsung minta ijin untuk pulang. Aku ucapkan terima kasih kepada semua orang di sana, yang telah menolongku dan memberiku tempat berlindung. Aku naik motor tanpa sandal –telanjang kaki. Karena sebelah sandal yang hilang nggak aku temukan akhirnya sebelah sandal yang ada pun aku buang. Aku menuju arah bunderan UGM, ramai oleh orang-orang yang mau menyaksikan kerusakan, jalanan macet. Baliho konser Andra & The Backbone rusak. Motorku beberapa kali berulah, tiba-tiba mati. Aku takut motorku jadi sulit di-stater lagi. Untungnya bisa. Rencana awal mau ke arah jalan Terban, itu jalan yang menuju arah Jl Colombo. Tapi sepertinya jalan lebih macet. Akhirnya aku putuskan ke Himmah, sekalian pinjam sandal. Sampai di Himmah, buka pintu, lihat Zimam dan Andy. ”Ah, senang masih bisa ketemu dengan kalian, serius,” kataku. Zimam tanya, ”Dari mana, Mis?” ”Habis terjebak hujan badai nih di UGM,” jawabku. ”Dhipta sama Kiki kesana lho,” ujarnya. ”Kok kamu nggak basah?” tanya Zimam lagi. ” “Nggak basah dari hongkong, bajuku nih basah semua. Mesti cepat-cepat ganti,” sahutku. ”Iya, tadi aku benar-benar nggak bisa kemana-mana, apalagi tadi aku jatuh dari motor gara-gara nggak kuat tahan angin.” Aku jelaskan panjang lebar sambil makan rengginang, makanan kesukaan Zimam yang dibawanya. Selesai makan, itu aku mau cabut, karena tujuanku cuma mau pinjam sandal di Himmah, ”Mau kemana, Mis? Tanya Zimam saat lihat aku memakai lagi jaket basahku. ”Pulanglah,” jawabku. ”ngapain pulang?”tanya dia lagi. ”Bajuku basah semua. Ntar kalo aku masuk angin, dadaku sesak dan pingsan apa kamu mau nolongin aku? Tanyaku. Ya, dulu aku sering sesak nafas dan pingsan. ”Kan gampang tinggal nyeret kamu ke sana,” jawab Zimam sambil menunjukkan ruang belakang kantor himmah. Jawaban yang membuatku kesal, dia kalo menjawab pertanyaan biasanya memang seperti itu, nyelekit. ”Kamu itu berat Misni, kalo kamu pingsan butuh tiga orang buat ngangkat kamu,” lanjut dia. ”Iya, po? Beratku cuman 40 kilo,” protesku nggak percaya. ”Iya, kamu itu kalo pingsan bunyinya ‘bukk’, aku aja kalo jatuh nggak kayak gitu,” terang Zimam. Aku capek, jadi malas mikir sanggahan dari kata-kata Zimam. Akhirnya cuma bilang, ”Terserah kamu deh, pulang dulu ya.” kataku. ”Sekalian Misni, pesenin aku teh anget di Mas Tri,” pinta Zimam. ”Emoh, aku mau pulang.” Akhirnya Zimam pergi memesan teh enget, kami sama-sama keluar ruangan. Masih mengejekku, saat sampai di depan satpam. Zimam terpeleset, aku refleks tertawa. Karena dia sudah mengejekku hari itu. Tapi setelah itu, rasa bersalah muncul, harusnya aku nggak melakukan itu. Aku menyusul Zimam ke angkringan dan bilang, ”Zimam, maaf ya. Aku pulang dulu.” ”Iya, hati-hati, awas kena hujan badai,” kata Zimam. ”Tadi aku udah kena, kamu hati-hati kalo jalan, Mam. Kualat sama aku sih kamu.”

Akupun pulang, sengaja menghindari jalan Kaliurang. Lewat daerah Blimbingsari hingga ke arah rumah sakit Sardjito, di sana banyak teras rumah, lapak pkl yang hancur dan pepohonan tumbang. Sampai di Jalan Kaliurang sepertinya tidak nggak hujan deras. Beberapa pinggir jalan, bahkan kering. Beda banget dengan jalan bundaran UGM yang banjir beberapa centimeter. Sampai di rumah langsung ke kamar, ambil pakaian bersih, dan mandi. Setelah mandi, membongkar tas, dan binder karena banyak barangku yang basah. Mengeringkannya. Buat susu coklat, makan, minum jamu dan tidur.
Seingatku, sepanjang hidupku. Ini salah satu peristiwa yang menegangkan buatku. Kematian mengintipku lebih dekat. Alhamdulillah aku baik-baik saja.

No comments:

Post a Comment