April 08, 2009

Jogja


Pukul dua dinihari. Selepas menuntaskan rasa lapar di warung burjo, aku menyusuri jalanan Jogja yang lengang. Temaram lampu jalan menerangi kota yang tengah terlelap ini. Orang-orang beristirahat. Jogja pun senyap untuk beberapa jam. Pagi, mereka mulai beraktivitas. Jogjapun kembali hiruk pikuk. Ah, ingin rasanya aku ikut terlelap dalam pelukan malam. Namun mata ini tak kunjung mau terpejam. Insomnia. Baiklah, tak ada salahnya aku melihat wajah Jogja saat larut malam.

Jogjakarta... sudah berapa tahun aku tinggal di kota ini? Lima tahun lebih. Jauh sebelum itu, aku tlah akrab dengan kota ini. Dalam ingatan masa kecilku. Jogjakarta adalah tempat berlibur saat kenaikan kelas. Aku ingat saat masih duduk di kelas 5 SD, aku berlibur di Jogja, menginap di kost Mbak Septi, kakakku, di daerah Sapen. Suatu kali kakakku harus kuliah, dia tidak tega meninggalkanku sendiri di kost. Dia lalu mengajakku ke Gramedia Sudirman. Melihat banyak buku, aku mau ditinggal di sana sementara kakakku pergi kuliah. Siang hari dia selesai kuliah, lalu menjemputku di Gramedia, tapi aku masih asyik membaca. Akhirnya dia membelikanku buku Lupus Kecil.
Tiap naik kelas, pasti beli buku tulis dan berbagai alat tulis baru. Saat di Jogja aku sempatkan untuk membeli peralatan tulis. Kakakku selalu mengajakku ke toko Siswa Muda di Jalan Solo. Di sana aku beli buku tulis, pensil, dll. Meski sebenarnya di Pati pun ada. Tapi ada satu barang yang hanya bisa aku dapatkan di Jogja, penghapus Steadler ukuran besar. Entah kenapa di Pati penghapus yang ukuran besar tidak dijual, yang ada pasti ukuran kecil. Dulu waktu sekolah aku sangat senang dengan penghapus itu, karena di Pati nggak ada yang jual.

Selepas SMP aku nggak pernah lagi main ke Jogja. Baru setelah lulus SMA baru pergi ke Jogja lagi. Sempat saat awal-awal kuliah aku pergi sendiri ke kawasan Jalan Solo beli peralatan tulis, seperti yang dulu sering aku lakukan. Bagaimana lagi yang aku kenal ya daerah itu saja. Sekarang aku sangat akrab dengan daerah utara Jogja, seputaran Jalan Kaliurang. Jika dihitung entah sudah berapa ribuan kali motorku bolak-balik dengan rute Jalan Kaliurang Km. 10-Cik di Ditiro-Jakal Km 14.

Apa jadinya jika lima tahun lalu aku tidak menginjakkan kaki untuk menempuh sekolah tinggi di universitas di utara kota ini? Tetap menjadi seorang perempuan bernama Misni namun pengalaman dan pengetahuan yang aku peluk erat tentu akan berbeda dengan apa yang aku peluk saat ini. Karena diriku ini tersusun dari pelbagai pengalaman, pengetahuan, interaksi dengan orang-orang yang aku dapat di Jogja. Kota ini menyediakan hal-hal yang aku butuhkan, aku sukai. Buku-buku murah dan berkualitas, film-film bermutu, komunitas diskusi, resital-resital musik, teman-teman yang hangat dan tulus, dan organisasi yang mendidik.

Jogja juga menjadi benang merah yang menghubungkan aku dengan sahabat mayaku. Kota yang sama-sama kami kenal, meski dari kisaran tahun yang berbeda. Kota yang mendekatkan kami.


Kota ini telah menjadi zona nyamanku hingga membuatku enggan beranjak. Aku menyadari tak selamanya aku bisa duduk nyaman seperti ini, aku mesti beranjak pergi. Mencari pengalaman dan pengetahuan, berinteraksi di kota-kota lain, makin membuatku kaya pengalaman, pengetahuan, teman, dll.
Di kota ini aku merajut mimpi, menjalin jejaring. Kota yang pasti akan aku rindukan, karena menyimpan nostalgia. Aku bersyukur atas segala yang aku dapatkan selama di Jogja.

Pulang ke Himmah, tergelitik untuk menulis tentang nostalgia. Saat menuliskan cerita ini sambil mendengarkan lagu lawas Kla Project –Yogyakarta.
Pulang ke kotamu ada setangkup haru dalam rindu

Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi Saat kita sering laungkan waktu nikmati bersama suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti Ramai kakilima menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi
S
eiring laraku kehilanganmu

Merintih sendiri ditelan deru kotamu

Walau kini kau tlah tiada tak kembali

Namun kotamu hadirkan senyummu abadi

Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Dan akupun terhanyut akan nostalgia tentang Jogja.[]

No comments:

Post a Comment