November 02, 2008

Labirin si Kupu-Kupu


Kamis (30/10)

Siang itu aku berencana untuk mulai tahap awal reportase, mengunjungi LSM Griya Lentera di daerah Pasar Kembang. Tapi, sepanjang jalan rasa kantuk mulai menyerang, kuputuskan untuk mampir dulu ke Himmah. Sekitar pukul dua siang. Di sana ada Pampam, Mas Yanto yang sedang sibuk membuat kurikulum magang. Andy nonton TV. Memang tujuanku mampir ke himmah untuk tidur -setidaknya tiduran- tapi sesampai di sana, aku malah nggak merasa ngantuk, hanya capek. Akhirnya ngobrol dengan Pampam dan Mas Yanto. Sore sekitar pukul 16.00, aku, Andy, Pampam dan mas Rokiban ngobrol di pos satpam sambil makan buah kresen –warna merah kecil rasanya manis- pohonnya tumbuh di samping gedung BRI. Aku tanya ke Pampam apa mau menemani aku ke Griya Lentera, karena aku belum pernah ke sana. Setelah kubujuk, dia mau menemani, “Tapi nanti, aku habis makan.” ujarnya. Ya, udah. Aku menunggu Pampam sambil main freecell di Himmah. Zendhy datang, dia mau me-layout buku Ijen. Tapi Pampam ngajakin Zendhy untuk ikut ke Sarkem. Dan akhirnya aku, Pampam, Andy dan Zendhy pergi ke Sarkem.

Sarkem, akronim untuk Pasar Kembang. Masyarakat Jogja sering membuat akronim untuk tempat-tempat di seputaran Jogja. Seperti Jakal –Jalan Kaliurang, Jago –Jalan Godean, Jamal –Jalan Magelang (tapi seharusnya akronimnya adalah Jalang). Sekitar pukul lima sore, motor kami parkir di parkiran stasiun Tugu. Kami lalu berjalan menuju gang sempit di samping gedung bekas Unisi Radio. Di sepanjang dinding ada lukisan mural berupa kupu-kupu. Plang-plang losmen yang “disponsori” salah satu merek kondom ikut menghiasi bagian atas jalan sempit itu. Beberapa ruas pinggir gang dijadikan dapur, kami harus melewatinya. Kami menyapa beberapa warga yang sedang jagongan karena melintas, sebuah tindakan tentang kesopanan. Berjalan di gang sempit itu serasa masuk ke labirin. Di labirin itu tak ada minotaur yang siap memangsa kami. Tapi kupu-kupu. Sepeti lirik lagu Titiek Puspa, mereka yang dipuja sekaligus dihujat.

Beberapa kali kami tersesat hingga harus kembali. Akhirnya Pampam bertanya pada seorang perempuan. “Mbak, boleh tanya nggak? Griya lentera sebelah mana ya?”
“Griya apa?” tanyanya balik.
“Wah, rupanya mbak ini nggak tahu apa itu griya lentera,” pikirku.
Seorang pria yang duduk di samping mbak tadi lalu menimpali, “Oh, Griya Lentera. Depan itu yang ada motor itu belok kanan, mentok lalu belok kiri.” seraya menunjukkan arah ke pada kami.

Kupikir akan mudah menemukan letak Griya Lentera, karena ancer-ancer yang diberikan mas tadi tidak begitu rumit, tapi dugaanku salah. Kami masih belum bisa menemukan letak griya lentera dan lagi-lagi tersesat. Beberapa orang melihat kami mondar-mandir, mungkin berpikir, “Wong-wong iki arep ngopo tho?”

Pampam bertanya lagi pada seorang perempuan yang sedang ngemong, “Mbak, Griya Lentera itu dimana?”
“Oh, deket mushola jarak satu rumah” jawab mbak itu.
Ah, ternyata kami tadi melewatinya. Kami lalu kembali lagi, di dekat mushola ada beberapa warga sedang jagongan, Pampam tanya keseorang perempuan paruh baya, dia bilang bahwa Griya Lentera sudah pindah ke daerah Badran di PKBI, belum ada satu bulan. Setelah tahu Griya Lentera sudah pindah, kamipun memutuskan untuk balik ke Himmah, sebentar lagi sudah maghrib. Rencana ada rapat panitia IHT. Berarti aku harus pergi ke PKBI untuk cari data tentang PSK berkebaya.

Ini memang pertama kalinya aku ke daerah Sarkem, maksudku berjalan memasuki perkampungan-perkampungan. Kupikir letak griya lentera mudah ditemui seperti layaknya kantor LSM lainnya. Tidak tahu bahwa perkampungan di daerah ini benar-benar seperti labirin. “Mereka yang tinggal di sini sangat terasah kemampuan spasialnya” kataku pada Pampam sesaat setelah kami keluar dari labirin itu. Aku memang belum pernah bersinggungan dengan mereka yang tinggal di sana, baik yang berprofesi sebagai PSK atau bukan. Ada sebuah lingkungan masyarakat yang tinggal di gang-gang sempit bak labirin. Tapi kurasa mereka punya solidaritas pada komunitas yang tinggi. Semoga melalui penggarapan rubrik ini aku bisa belajar banyak.

No comments:

Post a Comment